Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
11 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
11 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
3
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
6 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
4
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
Hukum
6 jam yang lalu
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
5
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
5 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
6
Pujian Cara Pemain Bali United Berjuang Raih Kemenangan Tandang Perdana
Sepakbola
5 jam yang lalu
Pujian Cara Pemain Bali United Berjuang Raih Kemenangan Tandang Perdana
Home  /  Berita  /  Badminton

Thawalib Gunung Padang Panjang Siap Jadi Pesantren Penulis

Thawalib Gunung Padang Panjang Siap Jadi Pesantren Penulis
Suasaa kegitan penulisan kreatif di Pondok Pesantren Thawalib Gunung Padangpanjang.
Minggu, 18 September 2016 13:57 WIB

PADANG PANJANG – Pondok Pesantren Thawalib Gunung Padangpanjang, Sumatra Barat, siap menjadi pesantren yang melahirkan penulis. Sebagai bentuk keseriusan dan tekad tersebut, di hari yang sama, Pondok Pesantren Thawalib Gunung menggelar Seminar Menulis Kreatif dengan narasumber Sulaiman Juned (Penyair, Sutradara, Dosen Teater) dan Muhammad Subhan (Penulis dan pegiat Forum Aktif Menulis Indonesia).

“Banyak santri yang berbakat menulis di pesantren kami, dan ini akan kami asah,” kata Ustaz Abdul Hamid, Guru Bahasa dan Sastra Indonesia Pondok Pesantren Thawalib Gunung Padangpanjang, Jumat (16/9/2016).

Sulaiman Juned membahas materi baca dan cipta puisi. Menurut Doktor Seni lulusan ISI Solo yang saat ini mengajar di Jurusan Teater ISI Padangpanjang ini, membaca dan mencipta puisi itu mudah.

“Baca puisi, selain menghayati isi puisi, juga harus mampu mengolah vokal. Latihan pernapasan penting,” kata Sulaiman Juned yang baru menerbitkan buku puisi tunggal “Negeri di Atas Kabut”.

Sedangkan menulis puisi, tambah Sulaiman, dibutuhkan kemampuan berimajinasi, mengolah kata, dan banyak membaca.

“Kuncinya berani mencoba. Ada puisi yang ditulis hanya satu kata, puisi ‘Doa’ karya Hamid Jabbar, misalnya. Isi puisi itu cuma kata; ‘Amin’,” papar Sulaiman Juned disambut tawa peserta yang terdiri dari santri setingkat MTs dan MA di pesantren tersebut.

Sementara Muhammad Subhan menyampaikan materi penulisan novel dan cerpen. Dia menekankan pentingnya mengembangkan ide dan mendramatisir konflik agar cerita yang ditulis hidup dan enak dibaca.

“Ide cerita bisa didapat di mana saja; di jalan, di pasar, di rumah, di pondok pesantren, maupun pada diri sendiri,” kata penulis novel “Rumah di Tengah Sawah” itu.

Untuk tahap pemula, dia menganjurkan peserta mengambil ide dari diri sendiri, sebab lebih mudah ditulis. Dia memberi contoh novel-novel populer seperti “Laskar Pelangi’ karya Andrea Hirata dan ‘Negeri Lima Menara’ Ahmad Fuadi yang mengutip ide cerita dari kehidupan masa kecil pengarang.

“Jika nanti sudah mahir menulis, lompatlah lebih jauh, pungut ide lain di luar diri, terutama tema-tema sosial yang terjadi di sekitar kita,” paparnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Thawalib Gunung Padangpanjang diwakili Kepala Bagian Kesiswaan, Ustaz Ambrizal, S.Ag., dalam sambutannya mengatakan, pihak pondok sangat mendukung diadakannya Seminar Kepenulisan tersebut.

“Ini akan memotivasi santri-santri kami untuk menulis, sebab menulis adalah salah satu cara berdakwah,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut Sulaiman Juned dan Muhammad Subhan menyumbangkan sejumlah buku dan majalah sekolah untuk peserta dan perpustakaan di Pondok Pesantren tersebut. (rilis)

Editor:Calva
Kategori:Umum, Badminton
wwwwww