Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
21 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
19 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
3
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
13 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
4
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
Olympic
14 jam yang lalu
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
5
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
Olympic
14 jam yang lalu
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
6
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Umum
19 jam yang lalu
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Pemerintah Aceh Diminta Rumuskan Aturan Terkait Bahan Baku Pertanian

Pemerintah Aceh Diminta Rumuskan Aturan Terkait Bahan Baku Pertanian
Peserta penyusunan Survey Investigasi dan Desain (SID) Pengembangan Kawasan Perkebunan Aceh berfoto bersama, Sabtu (9/12/2017). [Ist]
Minggu, 10 Desember 2017 07:37 WIB
Penulis: Joniful Bahri

BIREUEN  -  Untuk pengembangan perkebunan di Aceh, pemerintah perlu membuat qanun terkait  penjualan bahan baku keluar Aceh. Sehingga hasil bumi yang selama ini dimanfaatkan di luar Aceh memiliki nilai serta identitas.

Hal itu dikatakan Tarmizi Age, mantan GAM di Denmark saat berlangsung kegiatan penyusunan, Survey Investigasi dan Desain (SID) Pengembangan Kawasan Perkebunan Aceh, di Banda Aceh, Sabtu (9/12/2017).

“Di samping membangun kebun baru yang lengkap dengan infrastruktur sampai pada pencapaian kualitas yang prima, pemerintah juga harus mendukung kebutuhan untuk dunia industri, seperti jalan, listrik, air bersih, jaringan telekomunikasi dan birokrasi yang beretika, mudah dan muarh,” kepada GoAceh, Sabtu kemarin.

Ia juga meminta biaya ekspor yang murah, dukungan keuangan dari perbankan kepada pengusaha industri dengan sistim pinjaman tanpa bunga. “Kita juga masih ketinggalan terhadap promosi melalui media, serta membangun kerja sama dalam dan luar negeri secara berkelanjutan, dan ini kelemahan Aceh saat ini,” katanya.

Kegiatan kajian penyusunan SID Pengembangan Kawasan Perkebunan Aceh tersebut, merupakan kerja sama Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh dengan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala dengan melibatkan seluruh elemen di bidang perkebunan dan pertanian.

Editor:TAM
Kategori:Ekonomi
wwwwww