Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Suami Jual Istri 2 Tahun Layani Threesome, Pelanggannya Ada Wanita, Begini Pengakuannya
Peristiwa
11 jam yang lalu
Suami Jual Istri 2 Tahun Layani Threesome, Pelanggannya Ada Wanita, Begini Pengakuannya
2
Ini Penjelasan Telkom IndiHome dan Telkomsel Soal Gangguan Internet di Sumatera
Riau
24 jam yang lalu
Ini Penjelasan Telkom IndiHome dan Telkomsel Soal Gangguan Internet di Sumatera
3
Terkait Skandal Djoko Tjandra, Kejagung Tangkap Jaksa Pinangki Selasa Malam
Nasional
9 jam yang lalu
Terkait Skandal Djoko Tjandra, Kejagung Tangkap Jaksa Pinangki Selasa Malam
4
Usai Disetubuhi, Tabrani Bunuh dan Bakar Istrinya, Hasanah, Ini Penyebabnya
Peristiwa
8 jam yang lalu
Usai Disetubuhi, Tabrani Bunuh dan Bakar Istrinya, Hasanah, Ini Penyebabnya
5
Jaksa Pinangki Diduga Terima Suap dari Djoko Tjandra Rp7 Miliar
Nasional
9 jam yang lalu
Jaksa Pinangki Diduga Terima Suap dari Djoko Tjandra Rp7 Miliar
6
Calon Wagub Sumbar Usungan Gerindra Jadi Tersangka
Hukum
12 jam yang lalu
Calon Wagub Sumbar Usungan Gerindra Jadi Tersangka
Home  /  Berita  /  Sumatera Utara

Sebelum Tewas Ditembak, Penagih Uang Setoran Dua Kali Dijemput Petugas Polisi

Sebelum Tewas Ditembak, Penagih Uang Setoran Dua Kali Dijemput Petugas Polisi
Ridho semasa hidup. (Insert) Jenazah Ridho disemayamkan di rumah duka.
Minggu, 14 Januari 2018 18:38 WIB
MEDAN – Chairul Ridho, terduga pelaku penggelapan uang Rp 6 miliar milik bank pada pertengahan Oktober 2016 meninggal dunia, Sabtu (13/1/2018) malam. Menurut polisi, ia ditembak di tubuh bagian atas merebut senjata petugas kepolisian.


Berdasarkan pengamatan tribun-medan.com, puluhan keluarga berkumpul di depan ruang jenazah Rumah Sakit Bhayangkara Medan. Mereka, protes karena petugas Rekrim Polrestabes Medan dianggap sengaja menembak mati pemuda kelahiran 1990 tersebut.

“Adik saya sudah dua kali dijemput oleh petugas kepolisian. Penjemputan pertama dilakukan pada 5 hingga 6 Desember 2017,” ujar perwakilan keluarga, Jumadi saat ditemui di Rumah Sakit Bhayangkara, Minggu (14/1/2018).

Penjemputan pertama dilakukan petugas kepolisian berpakaian preman di pelataran kantor vendor outsourcing tempat Ridho bekerja di Jalan Merak. Setelah itu, ia disekap selama dua hari di kawasan Jalan Haji Misbach. Namun, ia tidak mendapatkan perlakuan yang kasar.

Selain itu, dua hari diperiksa, polisi tidak menemukan cukup bukti untuk menjerat Chairul Ridho sehingga dipulangkan ke rumah. Selanjutnya, Chairul Ridho menceritakan tentang pemeriksaan kepada keluarga maupun rekan kerjanya.

Jumadi menambahkan, pada Jumat (12/1/2018), pagi, Chairul Ridho kembali ditangkap di pelataran kantornya itu. Kemudian, petugas kepolisian berpakaian preman tersebut membawanya masuk ke dalam mobil. Seharian, ia tidak ada kabar.

“Saya dihubungi teman kerjanya, sehingga berupaya mencari keberadaan Chairul Ridho di tempat penyekapan pertama. Namun, tidak ada. Saya hubungi teman saya seorang polisi di Polda Sumut, diberitahu yang nangkap Polrestabes Medan,” katanya.

Ia menceritakan, orang tua Chairul Ridho sempat panik dan sakit karena mendapat kabar bahwa anak ke-empat dari empat bersaudara ini sudah meninggal dunia. Petugas kepolisian yang datang ke rumah memberikan kabar mengejutkan itu.

“Petugas kepolisian datang pada Sabtu (13/1/2018) pukul 21.30 WIB memberikan kabar adik saya sudah meninggal dunia. Polisi bilang tertembak pada bagian dada karena merebut senjata petugas kepolisian,” ungkapnya.

Editor:Fatih
Sumber:tribun medan
Kategori:Sumatera Utara, Hukum, Peristiwa, Umum

wwwwww