DPD Hanura Kalbar: OSO Tetap Ketum Hanura
![]() |
| Istimewa. |
Penulis: Muslikhin Effendy
"Kita tidak setuju itu, jadi kalau ada yang bilang DPD setuju itu bisa dipertanyakan. Karena kawan2 di sejumlah daerah juga bingung," kata Harry Adryanto Daya di Pontianak Senin ( 15/1).
Menurut Harry sudah ada gerakan sekelompok orang yang tidak suka OSO menerapkan cara pilkada yang bersih dan menggalakan pengurus dan kader memiliki jiwa dan sikap yang bermoral. Agar dicintai rakyat.
Ditambahkan Harry, OSO meminta dan menjaga jangan sampai ada lagi kader2 Hanura yang ditangkap KPK karena kasus korupsi, seperti kader Hanura yang juga anggota DPR RI , Miryan S Aryani.
" Kita dan teman2 DPD Hanura di Indonesia yang saya hubungi mengaku terkejut dan masih solit. Dan kita tegaskan kita tidak setuju dan mengakui rapat liar tersebut. Saya tau Pak Sunding sudah memang mau dicopot mungkin dia tau..makanya cepat membuat gerakan. Tapi itu tidak semudah itu, kita lihat saja nanti," kata Harry.
Sementara itu, Pengurus Hanura kubu Hotel Ambhara mengirim surat kepada Ketua Dewan Pembina Hanura Wiranto terkait pemecatan Oesman Sapta Odang (OSO) dari posisi ketum. Kubu Ambhara menilai Wiranto sudah tahu kabar pemecatan OSO.
"Sudah keluar (SK pemecatan), sedang kami proses. Pak Wiranto Ketua Dewan Pembina, kami mengantar surat ke beliau," ujar Wasekjen Hanura Wishnu Dewanto kepada wartawan di Hotel Ambhara, Blok M, Jaksel, Senin (15/1/2018).
"Beliau (Wiranto) mengetahui (soal pemecatan OSO)," tambahnya.
Wishnu mengatakan Wiranto berpesan kepada Hanura untuk berpegang teguh pada AD/ART partai. Wiranto tak menjawab gamblang apakah menyetujui atau sebaliknya soal pemecatan OSO.
"Gini, kalau beliau menyatakan mempertegas melalui memegang teguh aturan, beliau tidak seperti itu, tetapi mempertegas semua harus kepada aturan. Nah, aturan itu dicocokkan sama pelanggaran-pelanggaran yang ada," jelasnya.
Ada berbagai alasan pengurus kubu Ambhara memecat OSO. Salah satunya, OSO dinilai memecat 6 pengurus DPD Hanura secara semena-mena.
"Banyak aduan yang menyatakan komunikasi politik, arogan, tidak memperhatikan komunikasi sebagai seorang politisi senior yang santun karena kan kader politik kan tidak dibayar, mereka mengabdikan di rumah politik ini. Tentunya diberikan apresiasi, salah satunya diayomi tidak diberikan kalimat-kalimat yang represif," ucap Wishnu.***
| Kategori | : | Badminton, PON, Olympic, Voli, Metropolitan, DKI Jakarta |













