Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Taman Bendera Pusaka Raih Seoul Design Award, Komisaris PT ITJ: Legacy Pramono Anung Diakui Dunia
Metropolitan
16 jam yang lalu
Taman Bendera Pusaka Raih Seoul Design Award, Komisaris PT ITJ: Legacy Pramono Anung Diakui Dunia
2
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
Olympic
3 jam yang lalu
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
3
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
Sepakbola
3 jam yang lalu
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
4
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
Sepakbola
2 jam yang lalu
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
5
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Sepakbola
3 jam yang lalu
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
6
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
Olympic
3 jam yang lalu
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
Home  /  Berita  /  Riau

Terlalu 'Pede' Karhutla Menurun, Pemprov Turunkan Dana Bencana Jadi Rp6,8 M, Fitra Riau: Akhirnya tak Maksimal

Terlalu Pede Karhutla Menurun, Pemprov Turunkan Dana Bencana Jadi Rp6,8 M, Fitra Riau: Akhirnya tak Maksimal
Jum'at, 02 Maret 2018 13:35 WIB
Penulis: Winda Mayma Turnip
PEKANBARU - Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra Riau) menyayangkan minimnya alokasi anggaran untuk menanggulangi Karhutla 2018 pada APBD Riau yang diajukan oleh Pemprov Riau. Berdasarkan perbandingan dari tahun sebelumnya, pada 2017 total anggaran mencapai Rp29,3 miliar, sementara tahun ini berkurang hingga 77 persen atau hanya Rp6,8 miliar artinya Pempriov terlalu percaya diri (pede) Karhutla menurun.

Ketua Bidang Riset dan Advokasi Fitra Riau Tarmidzi dalam jumpa pers, Jumat, (2/3/2018) mengatakan, hal itu sangat memengaruhi pada kinerja pengendalian karhutla yang tidak maksimal. Akibatnya, bencana ini menjadi berkepanjangan dan pastinya jumlah kerugian semakin membesar.

"Kita ingin menyampaikan disini, memang di kota belum ada kabut asap, tapi silahkan dilihat di beberapa desa itu sudah cukup mengkhawatirkan. Tapi kita bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, alokasi anggaran untuk kebakaran hutan dan lahan tahun ini menurun, dari Rp29,3 m turun menjadi hanya Rp6,8 miliar," ungkapnya.

Dari total Rp6,8 miliar itu, ternyata tidak ada yang dikhususkan kepada tahap pemulihan pasca karhutla, 49 persen atau Rp3,3 miliar anggaran dihabiskan untuk pencegahan, dan sisanya Rp3,5 miliar habis untuk pembiayaan penanggulangan karhutla. Padahal, mengingat sulitnya pencegahan dan penanggulangan karhutla di Riau yang kondisi geografisnya adalah kawasan gambut dan rawan kebakaran akibat faktor alam.

"Dari identifikasi rencana kegiatan tahun 2018, masing - masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Dinas LHK, BPBD, dan perkebunan, tidak ada rencana pemulihan, hanya pencegahan dan penanggulangan saja," paparnya.

Selain itu, dari pembagian yang telah dipaparkan diatas, terlihat bahwa pemerintah lebih memprioritaskan pada penanggulangan dibandingkan upaya pencegahan. Oleh karena itu, pihak Fitra Riaupun menganggap pemerintah tersirat abai terhadap bencana karhutla pada tahun ini.

Sementara itu, kejadian karhutla sampai Februari 2018 sudah 'memakan' lahan seluas 772 ha, yang terjadi di 11 kabupaten /kota se-Riau, kecuali di Kuansing. Sedangkan karhutla yang terparah terjadi di Kabupaten Meranti dengan luas kebakaran 211,5 ha, Pelalawan seluas 170 ha, Inhu 121,5 ha, Bengkalis 88 ha dan Dumai seluas 86,25 ha, dan selebihnya seluas antara 30 ha hingga 1ha diPekanbaru, Inhil, Rohil, Kampar, Siak, dan Rohul. ***

wwwwww