Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
Hukum
16 jam yang lalu
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
2
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
Umum
13 jam yang lalu
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
3
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
Umum
13 jam yang lalu
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
4
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Hukum
17 jam yang lalu
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
5
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
KONI
10 jam yang lalu
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
6
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
KOI
17 jam yang lalu
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
Home  /  Berita  /  Sumatera Utara

Warga Nias Berharap Sihar Bantu Pulangkan Jasad Aksioma yang Tertahan di Jepang

Warga Nias Berharap Sihar Bantu Pulangkan Jasad Aksioma yang Tertahan di Jepang
Senin, 09 April 2018 08:09 WIB
Penulis: rel
MEDAN - Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumatera Utara, Sihar Sitorus, didatangi dua relawan Djarot - Sihar (Djoss) dari Nias di Posko Pemenangan Jalan Dr Cipto, Medan, Sabtu (7/4/2018) siang.
 

Kedatangan keduanya bukan untuk membicarakan terkait Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumatera Utara 2018.
 
Melainkan mereka yang belakangan diketahui salah satunya bernama Mercy Zagoto mengadu ke Sihar untuk turut membantu memulangkan warga Nias yang meninggal di Jepang. Adalah Aksioma Waruwu (25) meninggal dunia setelah mendapat perawatan intensif di RS Sakai Koga, Jepang, Kamis (4/4/2018). "Kami mendapat informasi, dia (Aksioma) masuk rumah sakit, Senin (2/4/2018). Keadaannya pusing, muntah dan tak sadarkan diri. Lalu kami diberi kabar Kamis (4/4/2018), sudah meninggal," ungkap Mercy yang juga kerabat Aksioma.
 
 
Namun jenazah Aksioma tak bisa dibawa pulang ke Indonesia untuk dimakamkan di kampung halamannya Teluk Dalam, Nias Selatan. Jasad Aksioma disemayamkan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang. Persoalan administrasi dan biaya pemulangan jenazah menjadi kendala yang dihadapi keluarga. Hal ini diketahui setelah Sihar menghubungi dan berbicara dengan abang kandung Aksioma, Passejahtera Waruwu. 
 
"Dia kerja di Jepang dengan menggunakan  visa wisata. Ini yang menjadi kendala pemulangannya. Juga kami kekurangan dana. Untuk memulangkannya, perlu biaya Rp 50 juta, sedangkan baru Rp 30 juta yang sudah kami kirim dan sisa Rp 20 juta lagi," jelas Passejahtera.
 
Menanggapi persoalan itu, Sihar mengatakan akan mencoba menghibungi pihak Kemenkumham.
 
"Saya akan coba membantu. Saya akan coba menghubungi Menkumham, bagaimana kiranya bisa secepatnya memulangkan almarhum. Mudah-mudahan Senin (9/4/2018) atau Rabu (11/4/2018) almarhum sudah tiba di Nias dan mudah-mudahan saya akan ke rumah duka, bertepatan dengan jadwal saya ke Pulau Nias. Sampaikan turut berduka saya kepada keluarga," jawab Sihar mengakhiri pembicaraan.
 
Tak lama, Sihar langsung menghubungi Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly dan menceritakan permasalahan yang dialami warga Nias tersebut. Melalui sambungan telepon aplikasi Whatsapp, Sihar memohon bantuan agar jenazah almarhum Aksioma dapat segera dipulangkan untuk dimakamkan.
 
Yasonna Laoly yang mendengar penjelasan pasangan Calon Gubernur (Cagub) Sumatera Utara Djarot Saiful Hidayat mengatakan akan langsung berkomunikasi dengan Dirjen Keimigrasian untuk turut membantu kepulangan jenazah Aksioma.
 
"Saya sudah berkomunikasi dengan Menteri Hukum dan HAM Pak Yasonna dan persoalan administrasi menyangkut visa almarhum akan diproses. Begitu juga dengan koordinasi dengan pihak terkait untuk segera memulangkan jenazah. Sedangkan soal dana untuk memulangkan almarhum dibutuhkan Rp50 juta, keluarga baru mengirimkan uang Rp30 juta, masih kurang Rp20 juta akan kita bantu  dan cari solusinya," ungkap Sihar.
 
Sihar menilai, dengan kondisi seperti ini, diperlukan sisi kemanusiaan untuk turut membantu memulangkan jenazah. Apalagi, persoalan seperti ini kerap menimpa warga negara Indonesia, terutama bagi penyumbang devisa, yakni tenaga kerja Indonsia (TKI).
 
"Kondisi seperti ini sangat diperlukan peran pemerintah untuk turut serta mendampingi dan mempermudah proses pemulangan saudara kita di negara lain. Siapa pun itu, mau TKI atau lainnya, tetap lah warga negara Indonesia, sudara kita," pungkas Sihar. 

Editor:wen
Kategori:Sumatera Utara, Metropolitan, Olympic, PON
wwwwww