Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
19 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
Beladiri
12 jam yang lalu
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
3
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
Olympic
16 jam yang lalu
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
4
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
KOI
14 jam yang lalu
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
5
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
KOI
14 jam yang lalu
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
6
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
20 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Home  /  Berita  /  Riau
Advertorial

Pembentukan BPBD dan Pemecahan Dinas Pertanian Kuansing Menunggu Permendagri

Pembentukan BPBD dan Pemecahan Dinas Pertanian Kuansing Menunggu Permendagri
Kabag Organisasi Setda Kuansing Yunita Tresia, SH, MH sedang bekerja di ruangannya.
Selasa, 29 Mei 2018 15:03 WIB
TELUKKUANTAN - Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) menjadi satu-satunya kabupaten di Riau yang belum memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Akibatnya, ketika terjadi bencana pemerintah kewalahan dalam menanggulanginya.

Selain itu, Pemkab Kuansing juga tak bisa menjemput dana dan bantuan-bantuan berhubungan dengan BPBD ke BNPB.

Hal itu diakui oleh Kepala Bagian Organisasi Sekretariat Daerah (Setda) Kuansing Yunita Tresia, SH, MH, Senin (28/5/2018) di ruang kerjanya.

"Sekarang baru terasa betapa pentingnya BPBD ini. Karena itu, kita sedang berjuang untuk membentuknya. Sebenarnya, persiapan dari Kuansing sudah matang untuk pembentukan BPBD, namun masih menunggu Permendagri," ujar Yunita.

Dijelaskan Yunita, tim dari pusat sudah mau turun ke Kuansing. Namun, keluar surat dari Mendagri agar tidak melakukan evaluasi terhadap OPD sebelum adanya Permendagri tentang pedoman mengevaluasi OPD.

"Kenapa menunggu itu? Jika kita membentuk BPBD, otomatis Damkar yang saat ini berada di Satpol PP akan ditarik. Jika itu ditarik, sama saja kita mengutak-atik OPD lama dan tentu Perda-nya harus diubah," papar Yunita.

Selain pembentukan BPBD, Kuansing juga mewacanakan untuk memecah Dinas Pertanian menjadi dua, yakni Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Ketahanan Pangan dan Dinas Perkebunan san Peternakan.

Sebelum tahun 2017, Dinas Pertanian merupakan penggabungan dari tiga dinas, yakni Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan dan Dinas Peternakan. Peleburan tiga dinas menjadi satu berdasarkan PP nomor 18 tahun 2016 dan ditindaklanjuti dengan Perda nomor 4 tahun 2016.

"Dalam PP 18 itu ada variabel indikator yang menjadi pedoman pembentukan OPD. Jika nilainya tak tercapai, tentu harus digabungkan," ujar Yunita.

Menurut Yunita, tidak tercapainya nilai variabel indikator pada tahun 2016 mungkin disebabkan ketidaktahuan OPD. Pasalnya, pengisian data berdampak pada skor akhir.

"Ini kan barang baru, OPD yang memasukkan datanya. Mungkin, ada yang tak serius atau tidak tahu. Sehingga, skornya tak tercapai. Jika skornya tak tercapai, tentu disatukan dengan OPD serumpun," papar Yunita.

Setahun berjalan, lanjut Yunita, ternyata banyak kepala OPD yang minta dievaluasi. Mereka menyampaikan beban dinas terlalu berat dan minta struktur dirampingkan. "Seperti PMD, Disnaker, Perkim, Kopindag. Artinya banyak OPD yang minta dievaluasi."

"Dalam PP 18 tersebut dinyatakan Pemda boleh melakukan evaluasi OPD setelah satu tahun berjalan. Nah, pas kita mau evaluasi, datang surat Mendagri yang minta evaluasi OPD menunggu Permendagri," ujar Yunita.

Sembari menunggu Permendagri, Kuansing sudah melakukan penyesuaian skor. Menurut Yunita, Pemda boleh melakukan pengurangan skor supaya ada penyesuaian. Hanya saja, Pemda tak boleh menaikkan skor.

"Kalau dikurangi, tentu OPD tersebut akan berubah tipe-nya, dari A ke B. Seperti Satpol yang saat ini tipe A, jika ditarik Damkar ke BPBD tentu turun menjadi B," papar Yunita.

Evaluasi OPD sangat diperlukan guna mencapai visi misi Pemkab Kuansing yang Unggul, Sejahtera dan Agamis.

"Pada prinsipnya, kita ingin OPD itu miskin struktur tapi kaya fungsi," pungkas Yunita.(adv)

Kategori:Voli, Riau
wwwwww