Ritual Mandi Safar di Bengkalis untuk Menolak Bencana

Ritual Mandi Safar di Bengkalis untuk Menolak Bencana
Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Heri Indra Putra menyiramkan air pada prosesi ritual mandi safar.
Kamis, 08 November 2018 14:38 WIB
Penulis: Ismail
BENGKALIS - Ribuan warga meramaikan dan ikut memeriahkan tradisi Mandi Safar di Pantai Tanjung Lapin, Desa Tanjung Punak, Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Rabu (7/11/2018).

Bagi warga pesisir Selat Malaka, Rabu itu adalah hari spesial dimana menjadi Rabu terakhir di Bulan Safar atau yang disebut dengan Rabu Capok, dimana pada hari ini seluruh keluarga dikumpulkan untuk memohon doa restu dijauhkan dari segala bencana yang berlaku. Tradisi ini yang disebut dengan Mandi Safar.

Di Kabupaten Bengkalis Mandi Safar sudah rutin dilaksanakan setiap tahun. Bahkan, tradisi itu sudah menjadi ikon daerah. Bupati Bengkalis yang diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Bengkalis, H. Heri Indra Putra bersama Kapolres Bengkalis AKBP Yusuf Rahmanto dan Kepala Dinas Parbudpora Kabupaten Bengkalis ikut hadir dalam memeriahkan tradisi yang disebut-sebut warisan para pendahulu itu.

Menurut Ketua LAMR Kecamatan Rupat Utara, H. Abdullah, Mandi Safar adalah kearifan lokal warga di Pantai Tanjung Punak dan Teluk Rhu Kecamatan Rupat Utara. Di mana inti dari tradisi itu adalah doa agar terhindar dari malapetaka, dimana katanya pada Bulan Safar banyak terjadi bencana.

"Sebelum mandi sebagai penolak bala dari sumur tua yang telah dimasukkan wafaqnya bersama-sama, warga terlebih dahulu menggelar doa dan tepuk tepung tawar yang terdiri dari beras putih, kuning beretih dan tepung beras sebagai perlengkapan,'' ujar H. Abdullah

Sementara itu, H. Heri Indra Putra mewakili Bupati Bengkalis mengaku sangat mendukung agar Ritual Mandi Shafar terus dilestarikan. Karena melalaui kegiatan Mandi Shafar ini bisa memancing minat wisatawan untuk datang ke Kecamatan Rupat Utara Kabupaten Bengkalis.

"Kegiatan Mandi Shafar ini sudah menjadi agenda tahunan kita Pemerintah Kabupaten Bengkalis dan harus kita lestarikan bersama sama."jelas Heri

Lebih lanjut Heri menjelaskan Mandi Safar adalah suatu upaya spiritual ke arah pendekatan diri kepada sang pencipta yang dilakukan oleh sebagian masyarakat muslim di beberapa wilayah di Nusantara, seperti di Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis ini.

"Kita patut bersyukur karena Negeri kita masih memiliki sikap budaya yang kuat, sehingga bidang seni dan budaya terus mendapat perhatian yang besar dalam kebijakan pembangunan yang dilakukan, baik tingkat Provinsi Riau umumnya, maupun Kabupaten Bengkalis khususnya," pungkasnya.

Hal ini tentunya sejalan dengan program Provinsi Riau, di dalam visi Riau 2020, yang akan menjadikan kebudayaan sebagai sebuah tiang agung pembangunan, bahkan matlamat akhir dari tingkat pembangunan kebudayaan itu adalah bagaimana menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan melayu di Asia Tenggara. Dengan semboyan Riau The Home Land Of Melayu, Riau adalah tanah tumpah darahnya melayu.

Tampak hadir dalam Ritual Mandi Safar sejumlah pejabat administrator di lingkup Pemerintah Kabupaten Bengkalis, Camat Rupat Utara Agus Sofyan, Sekretaris Kecamatan Rupat Utara Khairunnazri, Kepala KUA Rupat Utara Surianto serta sejumlah kepala UPT/UPTD, kepala desa serta undangan lainnya se-Kecamatan Rupat Utara. ***

wwwwww