Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
19 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
2
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
Hukum
16 jam yang lalu
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
3
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Umum
16 jam yang lalu
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
4
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
12 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
5
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
12 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
6
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
Hukum
21 jam yang lalu
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
Home  /  Berita  /  Badminton

Pengawasan Dinas Lemah, Pangkalan di Pematang Reba Leluasa Jual Gas Bersubsisi Diatas HET

Pengawasan Dinas Lemah, Pangkalan di Pematang Reba Leluasa Jual Gas Bersubsisi Diatas HET
Ilustrasi
Selasa, 13 November 2018 23:18 WIB
Penulis: Jefri Hadi
RENGAT - Lemahnya pengawasan dan kurangnya ketegasan pihak terkait, menjadi salah satu penyebab leluasanya oknum pengusaha pangkalan gas elpiji 3 kg berbuat curang.

Selain kerap melakukan penyelewengan dalam penyaluran, pengusaha pangkalan gas bersubsidi itu juga secara terang-terangan menjual gas pada masyarakat diluar batas kewajaran.

Tanpa rasa takut terkena sanksi pemerintah dan PT Pertamina, pengusaha pangkalan dengan gamblang menjual elpiji bersubsisi pemerintah itu, diatas HET (Harga Eceran Tertinggi).

Hal itu terkuak dari pernyataan, Herman (31), warga Pematang Reba. Herman mengaku sempat kelimpungan mencari gas tabung melon di wilayahnya.

Begitu dirinya mengetahui di sebuah pangkalan LPG itu ada gas masuk, ia langsung mendatangi pangkalan tersebut untuk membeli gas.

"Begitu saya tanyakan harga per tabungnya, pemilik pangkalan mengaku harga per tabung Rp22.000,'' ujar Herman kepada GoRiau.com, Selasa (13/11/2018).

Herman mengaku kaget mendengar harga itu. Lantaran dirinya butuh dan tidak tahu harus mencari kemana lagi, mau tidak mau terpaksa ia beli.

"Saya tau, harga Rp22.000 itu jauh diatas harga yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp18.050. Karena saya butuh untuk istri memasak, walau mahal harus saya beli", ketus pria anak satu itu.

Dirinya meminta pihak terkait, dalam hal ini Disperindagpas (Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pasar) Inhu, untuk menindak tegas oknum pengusaha pangkalan gas nakal itu.

"Apa yang dilakukan pengusaha gas itu sudah sangat diluar batas dan jelas memberatkan masyarakat. Gas 3 kg ini merupakan hak masyarakat miskin", tutupnya.

Sementara itu, salah seorang pemilik pangkalan terkesan mengelak saat dikonfirmasi GoRiau.com. "Kita sudah menjual sesuai aturan. Selaku pedagang, tentu saya mau mengambil untung. Kalau pun ada yang saya jual Rp22.000 per tabung, itu bukan warga disini melainkan warga luar,'' jawabnya singkat. ***

wwwwww