Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
Olympic
8 jam yang lalu
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
2
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
Olympic
8 jam yang lalu
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
3
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
Sepakbola
7 jam yang lalu
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
4
Taman Bendera Pusaka Raih Seoul Design Award, Komisaris PT ITJ: Legacy Pramono Anung Diakui Dunia
Metropolitan
20 jam yang lalu
Taman Bendera Pusaka Raih Seoul Design Award, Komisaris PT ITJ: Legacy Pramono Anung Diakui Dunia
5
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
Sepakbola
7 jam yang lalu
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
6
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Sepakbola
7 jam yang lalu
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Home  /  Berita  /  Badminton

Riau Harus Waspadai Banjir di Lahan Gambut, Bisa Tenggelamkan Pemukiman

Riau Harus Waspadai Banjir di Lahan Gambut, Bisa Tenggelamkan Pemukiman
Senin, 19 November 2018 02:03 WIB
PEKANBARU - Riau harus mewaspadai banjir yang terjadi di lahan gambut. Pasalnya, Riau memiliki 4,8 juta hektar lahan gambut yang tersebar di pedesaan.

Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Riau, DR Elviriadi mengatakan, lahan rawa gambut yang rawan banjir meliputi Kabupaten Kepulauan Meranti, Semenanjung Kampar dan Rohil.

''Sungai Tohor di Meranti itu canal blockingnya harus dibuka cepat cepat, kalau tidak, pemukiman masyarakat akan tenggelam dan tanaman sagu akan bisa mati,'' ujar Kepala Departemen Perubahan Iklim Majelis Nasional KAHMI itu juga mengingatkan

Dikatakan, saat ini rawa gambut sudah kehilangan fungsi sebagai penyimpan air di musim hujan, dan pelepas air di kala kemarau. ''Jadi banjir bumi Lancang Kuning ini metofora doa Nabi Nuh, dari atas curah hujan tak tertampung sungai, dari bawah rawa gambut tak bisa "menolong" (berfungsi) manusia sebagai majikannya,'' ujar alumni UKM Malaysia itu menambahkan.

Dikata, tasik dan waduk alami desa sebagai retensi curah hujan telah tertimbun tanah. ''Akibat itu, ketinggian air terus meningkat tahun tahun ke depan. Pola pembangunan, perubahan iklim dan perusakan ekologis membuat pikiran kita buntu,'' ujar anak jati Selatpanjang ini. ***

Editor:Hermanto Ansam
Kategori:Badminton, Riau, PON, Olympic
wwwwww