Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
9 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
8 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
3
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
3 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
4
Pujian Cara Pemain Bali United Berjuang Raih Kemenangan Tandang Perdana
Sepakbola
3 jam yang lalu
Pujian Cara Pemain Bali United Berjuang Raih Kemenangan Tandang Perdana
5
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
Hukum
3 jam yang lalu
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
6
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
3 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
Home  /  Berita  /  Badminton

GARBI: Debat Pilpres Perdana Tak Jelas

GARBI: Debat Pilpres Perdana Tak Jelas
Minggu, 20 Januari 2019 15:01 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
SURABAYA - Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah menyangkan debat perdana Pilpres 2019 yang belum lama ini digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU), khususnya pandangan dua kandidat capres dan cawapres soal negata hukum, belum ada yang jelas.

"Kita belum tahu negara hukum apa yang mau dia bangun nanti. Hukum itu mereka pandang seperti apa?" ujar Fahri Hamzah saat menyambangi kantor Jawa Pos di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu sore (19/1/2019).

Dalam kesempatan itu, Fahri didampingi para staf dan pengurus Gerakan Arah Baru Indonesia/GARBI Jatim.

Oleh karenanya, lanjut Deklarator GARBI itu, debat kandidat kemarin sebagai tragedi demokrasi yang harus diungkap. Dan GARBI, ingin menjelaskan itu kepada publik bahwa kalau nanti tiba-tiba tidak ideal, next figth years-nya itu karena ada masalah hukum.

"Ya, tentunya GARBI juga akan sampai pada satu titik diantara dua ini. Terutama karena, kita ini kan sekarang nggak punya kesempatan untuk meninjau pileg," tukasnya.

Jadi perkiraan Fahri Hamzah, itulah tesis-tesis GARBI yang mungkin nantinya diujung-ujung akan menemukan tuntutan besarnya itu apa. Tapi, sebagai tesis dua puluh tahunan, ini harus dikatakan yang biar tidak mengendap, hanya karena representasi politik tidak memadai untuk mengungkapkan.

"Tapi secara umum kita itu menganalisis tesis-tesis sejarah Indonesia yang secara konsisten lahir sebagai semacam pertanyaan dalam sejarah. Lalu jawabannya ditemukan oleh kaum muda yang progresif. Karena kita itu selalu punya kesempatan untuk mengidentifikasi masalah di dalam tubuh bangsa Indonesia, papar politisi dari PKS itu lagi. ***

wwwwww