Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
14 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
13 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
3
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
8 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
4
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
Olympic
8 jam yang lalu
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
5
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
8 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
6
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
Hukum
8 jam yang lalu
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
Home  /  Berita  /  Badminton

Delegitimasi Hasil Pilpres Ancam Suara Rakyat yang Ingin Indonesia Maju

Delegitimasi Hasil Pilpres Ancam Suara Rakyat yang Ingin Indonesia Maju
Kamis, 11 April 2019 17:55 WIB
Penulis: C. Karundeng
JAKARTA - Masalah serius yang akan muncul pada Pilpres 2019, bukan soal menang atau kalah, tetapi gerakan untuk mendeligitimasi hasilnya.

Bahkan ada pihak yang sudah menyiapkan upaya deligitimasi hasil pemilu yang akan diumumkan KPU ,sejak 4 tahun silam. Mereka ingin membalas atau melakukan revance atas kekalahannya.

Itulah kesimpulan diskusi yang diselenggarakan eksponen Gerakan Mahasiswa 77-78 di Cafe Atjeh Connection tanggal 9 September 2019. Sukotjo Suparto SH, mewakili eksponen 77-78 Jakarta, membuka diskusi dengan mengatakan: "Memang berat tantangan untuk melanjutkan kemajuan yang telah dicapai saat ini. Kendati demikian rakyat harus berhasil mengatasi segala dampak yang ditimbulkan oleh pesta demokrasi tersebut".

Hadir selaku narasumber adalah Prof Dr Syamsudin Haris dari LIPI dan Ahmad Badja politisi NU yang ikut ditahan pada tahun 1977/1978.

S Indro Tjahyono, selaku pembawa acara mengatakan, "Isu de legitimasi paska Pilpres ini dipilih, mengingat riakriaknya semakin santer sejak di gorengnya isu DPT, KTP ganda, kardus kotak suara, WNA bisa mencoblos, 12 kontainer surat suara sudah dicoblos, sampai ucapan Amin Rais agar penghitungan jangan dilakukan di Hotel Borobudur".

Hal itul juga dikhawatirkan DR Syamsudin Haris. "Yang harus diprioritaskan adalah bagaimana menjaga proses pemilu dan adanya upaya untuk mendelegitimasi Pemilu akibat ketidakpuasan," ujarnya.

Menurutnya, dalam kaitan ini penting sekali keberadaan Perpu yang mengijinkan perpanjangan waktu penghitungan sampai lebih dari 30 jam.

Sementara itu, Drs Ahmad Badja juga mengatakan bahwa serunya upaya delegitimasi nanti adalah akibat pertentangan bipolar terkait pendukung mayoritas.

"Hakekatnya dalam pemilu atau pilpres saat ini, yang dibenturkan adalah antara Islam moderat yang direpresentasikan oleh NU dengan Islam ekstrim penganut khilafah," ujarnya.

Dengan demikian pasca pilpres, NU harus lakukan konsolidasi besar-besaran. "Ini untuk menangkal gelombang delegitimasi, baik melalui penyadaran maupun melakukan kontra gerakan," imbuhnya.

Oleh karena itu, menghadapi tahap akhir Pilpres yang suaranya sudah tidak akan bergeser banyak. "TNI dan TNU harus kompak,'" ujar DR Syamsudin Haris.

"Perubahan elektabilitas sampai tanggal 17 April 2019 tidak akan signifikan, sekalipun hoax digencarkan. Jokowi - Maaruf Amin akan memperoleh 55-60 persen, sementara Prabowo - Sandiaga Uno mendapatkan 40 - 45 persen," tambahnya.

Memang soal adanya upaya untuk mendelegitimasi hasil Pilpres merupakan PR terbesar bagi pemerintahan Jokowi - Maaruf Amin, termasuk untuk lakukan konsolidasi Demokrasi. Dalam hal ini sangat penting untuk mempertahankan selisih suara di atas 5 persen agar tidak muncul reaksi berlebihan."Kepercayaan publik terhadap KPU, menurut survey, masih di atas 80 persen," tandasnya.

Jadi kata dia, tidak perlu khawatir jika Amin Rais akan menggalang people power.

Diskusi yang dihadiri oleh ratusan aktivis wakil alumni perguruan tinggi seluruh Indonesia itu diakhiri dengan ikrar untuk memenangkan Indonesia Maju. Tampak hadir beberapa tokoh aktivis mahasiswa seperti Ramles Manampang, Sismulyanda, Dwi Subawanto, Henny Andries, Zulkarnaen Saman, Maruli Gultom dll.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Badminton, Olympic, Voli, Metropolitan, DKI Jakarta
wwwwww