Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
24 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
16 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
3
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
Olympic
17 jam yang lalu
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
4
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
Olympic
17 jam yang lalu
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
5
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
22 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
6
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Umum
22 jam yang lalu
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Home  /  Berita  /  Badminton

Wapres JK: Kalau Harga Tiket Pesawat Terlalu Rendah, Bisa Mati

Wapres JK: Kalau Harga Tiket Pesawat Terlalu Rendah, Bisa Mati
Selasa, 07 Mei 2019 18:08 WIB
JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengklaim industri maskapai penerbangan tak ingin mematok harga terlalu tinggi untuk tiket pesawat. Namun, ia mengisyaratkan apabila harga yang dipatok terlalu rendah, maka akan mematikan industri maskapai itu sendiri.

"Saya yakin perusahaan penerbangan itu tidak ingin naik terlalu tinggi, karena kalau naik lagi, maka penumpang turun. Tapi kalau terlalu rendah, dia bisa mati juga. Kalau mati, kita naik apa nanti," ujar JK di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (7/5).

Buktinya, dia menuturkan dalam kurun waktu 20 tahun terakhir sudah ada 10 maskapai penerbangan yang 'gulung tikar', di antaranya Mandala, Simpati, Batavia, dan Adam Air.

Banyaknya maskapai penerbangan yang tutup, menurut dia, tak terlepas dari biaya operasional yang terlalu mahal. Akibatnya, persaingan antarmaskapai penerbangan semakin ketat yang didominasi dua grup besar, yakni Garuda Indonesia dan Lion Air.

"Tarif ini kan 70 persen komponennya impor yang memakai dolar AS. Pesawatnya sendiri apakah dibeli atau disewa, bunganya. Kemudian, juga tentu spare part-nya, komponen lainnya," kata JK.

Namun demikian, jika ditilik lebih jauh, ia mengisyaratkan pembelaan bahwa tarif tiket pesawat saat ini sebenarnya tak terlalu mahal. Ia membandingkan tarif tiket Jakarta-Makassar pada tahun '70-an yang berkisar Rp1,5 juta.

"Tahun '70-an saya ke Makassar itu ongkos tiketnya Rp1,5 juta waktu dolar AS 2.500 (US$ 1 = Rp2.500). Sekarang dolar AS hampir enam kali lipat dari itu, masih sekitar Rp1,5 juta juga. Jadi, justru sebenarnya tarifnya terlalu murah, sehingga mereka susah kelanjutannya," terang dia.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sebelumnya didesak sejumlah pihak menurunkan harga tiket pesawat. Satu juta orang telah menandatangani petisi meminta Budi menurunkan harga tiket.

Petisi dibuat oleh Iskandar Zulkarnaen yang melihat harga tiket pesawat domestik yang terus berada di kisaran batas atas tarif.

"Penerbangan domestik yang biasanya pulang pergi bisa di bawah Rp1 juta, kini rata-rata di atas Rp1 juta, bahkan mencapai Rp2-4 juta," ungkap Iskandar.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:CNNIndonesia.com
Kategori:Badminton, Olympic, Ekonomi, Voli, DKI Jakarta
wwwwww