Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pembahasan Omnibuslaw Ciptaker di Hotel sesuai Tatib, Parlemen Menjelaskan
DPR RI
20 jam yang lalu
Pembahasan Omnibuslaw Ciptaker di Hotel sesuai Tatib, Parlemen Menjelaskan
2
Akhirnya, Polisi Bekuk Pelaku Vandalisme Musola di Tangerang, Ternyata Berstatus Mahasiswa
Peristiwa
15 jam yang lalu
Akhirnya, Polisi Bekuk Pelaku Vandalisme Musola di Tangerang, Ternyata Berstatus Mahasiswa
3
Kemendagri Dorong Kampanye Pilkada Menunjang Prokes
Pemerintahan
15 jam yang lalu
Kemendagri Dorong Kampanye Pilkada Menunjang Prokes
4
Kutuk Aksi Vandalisme Musolla, Korpolkam DPR Imbau Masyarakat Tak Terprovokasi
GoNews Group
13 jam yang lalu
Kutuk Aksi Vandalisme Musolla, Korpolkam DPR Imbau Masyarakat Tak Terprovokasi
5
Duh... Anggota DPRD Dari Partai Golkar Ini Jadi Bandar Narkoba
Hukum
17 jam yang lalu
Duh... Anggota DPRD Dari Partai Golkar Ini Jadi Bandar Narkoba
6
Ketua DPR Minta Peserta Pilkada Tak Mobilisasi Massa saat Kampanye
Politik
18 jam yang lalu
Ketua DPR Minta Peserta Pilkada Tak Mobilisasi Massa saat Kampanye
Home  /  Berita  /  GoNews Group
Khazanah Ramadan

Berkah Ramadan, Produsen Dawet-Cincau Palembang Kebanjiran Pesanan

Berkah Ramadan, Produsen Dawet-Cincau Palembang Kebanjiran Pesanan
Ilustrasi. (Net)
Kamis, 09 Mei 2019 21:09 WIB
PALEMBANG - Produsen dawet dan cincau di Kota Palembang menghabiskan satu ton bahan baku berupa sagu dan tepung beras setiap hari selama bulan Ramadhan. Salah satu pemilik sentra produksi cincau dan dawet di Kawasan 26 Ilir Palembang, Maganda, mengatakan permintaan pasar sangat tinggi setiap Ramadhan.

Usaha Maganda dapat menghasilkan 300 bak cincau dan 200 liter dawet per hari. "Cincau dan dawet ini kami distribusikan ke pasar-pasar tradisional, seperti Pasar KM 5, Pasar Lemabang, Pasar Soak Bato, Pasar 26 Ilir, Pasar Sekip, serta Pasar 16 Ilir," ujar Maganda, Kamis (9/5).

Ia menjual dawet seharga Rp 100 ribu per ember ukuran 20 liter. Sedangkan cincau dijual seharga Rp 20 ribu per kotak. Harga tersebut naik dibanding tahun lalu karena harga pokok bahan baku seperti tepung, daun cincau, daun suji, dan kayu bakar merangkak naik.

Kebutuhan cincau, kata dia, memang sangat tinggi pada saat bulan Ramadhan. Bahkan banyak pedagang baru ingin memasok cincau dan dawet darinya. Namun Maganda tidak bisa memenuhi lantaran cincau - dawet yang diproduksinya hanya bisa mencukupi permintaan pelanggan.

"Saya ingin menambah produksi tapi kurang modal, apalagi harga bahan baku maupun bahan pokok sudah naik semua," lanjutnya. Meski demikian, ia mengaku tetap meraup omset jutaan rupiah setiap hari dari produksi cincau dan dawet selama Ramadhan.

Maganda mengaku sudah 30 tahun lebih pabriknya selalu memproduksi cincau-dawet hanya setahun sekali di bulan Ramadhan. Dengan bantuan enam pegawai, ia memulai proses produksi cincau dan dawet pada pukul 06.00 WIB.

Pertama-tama daun cincau direbus dahulu selama lima jam. Setelah itu dilakukan penyaringan untuk memisahkan ampas daun dan airnya. Air cincau yang sudah disaring dimasak dengan dicampur tepung tapioka dengan menggunakan kayu bakar.

Usai dimasak, cincau cair dimasukkan ke dalam wadah yang terbuat dari plastik tebal berbentuk persegi panjang. Cincau cair itu didiamkan selama empat jam sampai membeku. Menurut Maganda, cincau buatannya bisa awet selama tiga hingga empat hari.

Untuk pembuatan dawet, prosesnya dimulai dengan mencampurkan tepung beras, tepung tapioka, daun suji serta air. Semuanya diaduk rata lalu direbus sampai mengental.

Setelah mengental, adonan dawet dicetak menggunakan alat pencetak khusus yang terdapat ubang-lubang kecil. Adonan ditekan perlahan melewati cetakan sampai keluar dawet.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Republika.co.id
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Ekonomi, Sumatera Selatan
wwwwww