Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
Olympic
20 jam yang lalu
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
2
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
Olympic
20 jam yang lalu
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
3
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
Metropolitan
10 jam yang lalu
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
4
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
Sepakbola
19 jam yang lalu
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
5
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
Sepakbola
19 jam yang lalu
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
6
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Sepakbola
20 jam yang lalu
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Home  /  Berita  /  Badminton
Opini

Pemilu 2019: Islam dan NKRI Bukanlah Paradoksal

Pemilu 2019: Islam dan NKRI Bukanlah Paradoksal
Senin, 13 Mei 2019 02:26 WIB
Penulis: Adista Pattisahusiwa
BAGIAN manakah dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2019 yang bisa dibanggakan? Hajatan, hanya berisi soal-soal teknis politis, korban berjatuhan dan identity war hingga rakyat pun perlahan turun gunung.

Siapa tak dengar adanya kematian massal yang fenomenal? Ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di berbagai tanah negeri, tewas dengan belasan dalil medis. Dalil, yang memantik pertanyaan 'kenapa diterima bertugas puluhan jam sistem geber?'.

Sebutlah, infarct myocard, gagal jantung, koma hepatikum, stroke, respiratory failure, hipertensi emergency, meningitis, sepsis, asma, diabetes melitus, gagal ginjal, TBC, dan kegagalan multi organ. Berapa yang akrab di telinga? Dan mana yang layak mengiringi tugas berat berhonor ratusan ribu?

Dari situ, Pemilu yang mestinya jadi ajang tabur dan tebar gembira segenap warga negara, berubah 'gloomy' penuh duka cita.

Aspek teknis helatan pesta demokrasi yang mestinya berjalan jujur dan adil pun, terinsinuasi sarat guratan politis dan membentuk sketsa yang jauh dari aman dan damai menuju anarkistis.

Rakyat dibuat bingung dan skeptis setelah melihat rekapitulasi sementara KPU yang dirilis dalam aplikasi daring sistem perhitungan (Situng) KPU RI, ratusan meter dari bundaran HI. Pasalnya, data yang bergerak dinamis itu dinilai jauh panggang dari api.

Dalilnya, setiap kubu yang berkontestasi telah lebih dulu mengoleksi data formulir C1 dari setiap TPS seluruh wilayah Indonesia. Dan sajian Situng, jauh dari persis. Menurut Tim BPN Prabowo-Sandi, ada 25 juta data keliru di kepompong yang kupu-kupunya akan keluar 22 Mei nanti, bertepatan dengan 17 Ramadhan 1440 H dan hari bersejarah PKI, menurut salah satu literasi.

Tak pelak, tensi terus meninggi mendorong hati dan raga rakyat menggelinding turun gunung, menuntut transparansi agar Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia terpilih memang wajah yang jadi representasi putih demokrasi.

Api semangat pendukung pun terus dipantik di medan politik. Bukan satu, tokoh bangsa menghembuskan gas dari lisannya yang penuh kehormatan, hingga rakyat makin tegang. Iya, tegang.

Indonesia ku, kita telah memilih nahkoda untuk pelayaran nusantara hingga 2024. Dia yang terpilih semoga bisa merekatkan kembali berai bhineka; mempersatukan semua kekuatan untuk menyelamatkan nasib ratusan juta rakyat Indonesia.

Jangan ada lagi demokrasi tereduksi! Jangan ada lagi persatuan terkoyak! Identitas suku dan agama tak perlu lagi jadi dalil pertentangan. Depresi ekonomi juga jangan jadi alasan untuk makin tak peduli.

Karena, Islam dan NKRI bukanlah sesuatu yang perlu dipertentangkan, melainkan harus menjadi kekuatan utama bagi bangsa Indonesia. Penulis: Adista Pattisahusiwa/Aktivis dan Anggota Forum Wartawan Muslim Indonesia. (FWMI)

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:DKI Jakarta, Metropolitan, Voli, Olympic, Badminton
wwwwww