Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
Olympic
22 jam yang lalu
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
2
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
Olympic
22 jam yang lalu
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
3
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
Metropolitan
12 jam yang lalu
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
4
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
Sepakbola
21 jam yang lalu
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
5
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
Sepakbola
21 jam yang lalu
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
6
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
Metropolitan
10 jam yang lalu
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
Home  /  Berita  /  Badminton

Sandi Bergetar Serukan Perjuangan Sampai Titik Darah Terakhir

Sandi Bergetar Serukan Perjuangan Sampai Titik Darah Terakhir
Selasa, 14 Mei 2019 19:48 WIB
JAKARTA - Calon wakil presiden nomor 02 Sandiaga Uno mengajak segenap pendukungnya untuk terus berjuang melawan berbagai kecurangan yang terjadi sebelum, selama, hingga sesudah pencoblosan Pemilu 2019.

Sandi menyerukan itu kala berpidato dalam acara paparan dugaan kecurangan pemilu 2019 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (14/5) sore. Dengan intonasi tinggi, menggebu-gebu, dan suara bergetar, Sandi menyerukan pendukungnya berjuang hingga titik darah penghabisan.

"Kami ingin mengajak saudara-saudara untuk terus berjuang sekuat tenaga sampai titik darah penghabisan. Jaga kedaulatan rakyat. Takbir! Merdeka!" kata Sandiaga yang langsung dibalas pekik takbir oleh para pendukungnya yang hadir.

Seruan Sandi itu merupakan puncak dari pidatonya. Dalam paparan sebelumnya Sandi mengungkapkan berbagai praktik yang menurutnya telah mencoreng pelaksanaan Pemilu yang bersih. Dia, misalnya, menyoroti praktik politik uang yang marak terjadi di daerah.

Selain itu, Sandi juga mengungkapkan sejumlah perlakuan tak adil dari pemerintah kepada dirinya dan Prabowo Subianto. Sandi berkata dirinya mengalami sendiri kesulitan mendapat izin menggelar acara.

"Pemerintah daerah memberikan tempat kampanye terbuka yang sulit dijangkau, tentu saja semua berlangsung dalam lingkungan pengelolaan yang cenderung berat sebelah," kata Sandi.

Dugaan kecurangan lain adalah soal daftar pemilih tetap yang bermasalah. Lalu, lanjut Sandi mengklaim ada 6,5 juta pemilih yang tidak mendapat undangan saat hari pencoblosan. Juga soal keterlambatan dan kekurangan logistik hingga pengusiran dan intimidasi saksi-saksi dari pasangan 02 di daerah tertentu.

"Itu semua menyebabkan perolehan suara kami di daerah tertentu itu nol," ujarnya.

Sandi juga menyoroti sistem penghitungan hasil pemilu versi Komisi Pemilihan Umum. Menurut Sandi sudah banyak suara keberatan dari masyarakat terhadap Situng KPU. Terlebih setelah banyak ditemukan kesalahan dalam memasukkan data suara. Permintaan audit pun muncul. Namun, kata Sandi, semua itu tidak ditanggapi serius oleh KPU.

Lebih ironis lagi, sistem yang terbukti menampilkan puluhan ribu kekeliruan yang cenderung menyesatkan itu tetap dipregunakan dan dengan alasan ini bukan sistem yang akan digunakan untuk menentukan hasil akhir," papar Sandi.

Hal lain yang disoroti adalah rilis hasil hitung cepat beberapa saat setelah pencoblosan. Menurut Sandi rilis hitung cepat itu bermasalah karena dilakukan oleh lembaga survei yang ia sebut berperan ganda sebagai konsultan politik pasangan calon tertentu.

"Suatu praktik yang sangat nyata mengandung benturan kepentingan," kata Sandi.

Di pengujung pidatonya mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan pemilu yang sebentar lagi selesai tak serta merta dapat diterima. Sebab ada rasa keadilan yang terkoyak akibat praktik kecurangan.

Menurut dia, legitimasi kepemimpinan nasional yang diraih dengan cara-cara yang tidak bermartabat pasti akan selalu dipersoalkan.

"Karena demokrasi adalah soal kesetiaan pada prinsip kejujuran dan keadilan," ujar Sandi.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:CNNIndonesia.com
Kategori:Badminton, Olympic, Voli, Metropolitan, DKI Jakarta
wwwwww