Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
18 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
16 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
3
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
7 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
4
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
7 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
5
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
7 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
6
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
7 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Home  /  Berita  /  Badminton

KASAL: Menjaga Kedaulatan Bangsa Tugas Bersama, Bukan Hanya TNI

KASAL: Menjaga Kedaulatan Bangsa Tugas Bersama, Bukan Hanya TNI
Round Table Discussion Lemkaji MPR: Wilayah Negara dan Sitem Pertahanan dan Keamanan Menurut UUD NRI Tahun 1945 di Gedung Nusantara IV, Komplek Parlemen
Selasa, 02 Juli 2019 14:44 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Keberadaan Tentara nasional Indonesia (TNI) khususnya Angkatan Laut (AL), adalah kekuatan penting dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Keberdaan TNI dalam menjaga kedaulatan wilayah dan persatuan pun tidak bisa dianggap remeh. Hal ini diungkapkan Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Siwi Sukma Adji dalam Round Table Discussion Lemkaji MPR: Wilayah Negara dan Sitem Pertahanan dan Keamanan Menurut UUD NRI Tahun 1945 di Gedung Nusantara IV, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/7/2019) siang.

""Pernyataan bahwa Indonesia lemah adalah pernyataan yang gegabah. Kekuatan Indonesia khususnya di daerah-daerah dekat dengan wilayah teritorial kita sangat kuat, masih disegani negara lain. Beda ceritanya jika kita melakukan invasi perang dengan negara lain yang jaraknya cukup jauh dari Indonesia," ujarnya.

Menurutnya, dalam trategi di dalam melindung segenap bangsa, sejatinya bukan hanya tugas TNI.Tapi kata dia, ini merupakan tugas bersama.

"Wilayah nusantara di negara kita ini sangat luas. Dalam melindungi bangsa Indonesia menjadi kewajiban bersama, seluruh warga negara harus ikut bela," tandasnya.

Komponen utamanya menurut dia, adalah TNI-Polri dan komponen pendukung yang terdiri dari seluruh warga bangsa.

"Kekuatan Angkatan Laut saat ini, kami memiliki berbagai jenis 161, pesawat udara 91, berbagai persenjataan tempur, pangkalan. Ini semua bagian komponen utama untuk menjaga keutuhan negara," tukasnya.

Sebagai negara maritim kata dia lagi, empat komponen dasar
 yang terpenting membangun maritim community, maritime industry, sistem uu keamanan maritim semesta.

"Dan yang terakhir adalah bagaiamana seluruh elemen terpadu dalam rangka bela negara. Peran stake holder, beberpa negara seperti China, Vietnam, Malaysia, memanfaatkan kapal ikan, kapal niaga, untuk membangun sistem pertahanan secara keseluruhan diperlukan regulasi agar kepentingan nasional di laut bisa terjamin," paparnya.

Ia juga menyebutkan kekuatan dan kemandirian militer Indonesia yang mampu memproduksi persenjataan maupun Kapal Selam ke-5 yang pertama kalinya di produksi oleh Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia juga memiliki deteren value sehingga disegani negara-negara lainnya.

"Indonesia menganut strategi pertahanan Nusantara gerakan non-blok mendukung perdamaian dunia dan defensif aktif. Produk PAL yang memproduksi kapal kita juga sudah dibeli oleh Filipina dan Thailand. Jangan hanya menganalisis kekuatan militer kita rendah hanya perbandingan head to head berdasarkan jumlah alutsista," tambahnya.

Dalam menghadapi ancaman global. Ia meminta masyarakat mewaspadai perang asimetris yang merusak sosial budaya, serta menebarkan ujaran kebencian serta kabar bohong (hoax) yang memecah belah dan melemahkan bangsa demi kepentingan meraih kekuasaan.

"Termasuk yang perlu diantisipasi Perang Asimetris adalah masuknya senjata ilegal. Jangan sampai penganut bibit ideologi hard liner dimanfaatkan oleh aktor asing untuk membuat kekacauan di dalam Indonesia," pungkasnya.***

wwwwww