Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
18 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
2
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
Hukum
14 jam yang lalu
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
3
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Umum
14 jam yang lalu
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
4
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
Hukum
19 jam yang lalu
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
5
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
10 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
6
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
10 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Home  /  Berita  /  Badminton

Bukan Zaman Feodal, Tidak Boleh ada Klaim Dukungan dari Jokowi

Bukan Zaman Feodal, Tidak Boleh ada Klaim Dukungan dari Jokowi
Politisi PDI-P, Maruarar Sirait alias Ara saat menjadi pembicara di bedah buku 'Akal Sehat' karya Bambang Soesatyo di Jakarta, Rabu (28/08/2019). (Foto: Zul/GoNews.co)
Kamis, 29 Agustus 2019 10:20 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Politisi PDI-P, Maruarar Sirait berharap, nama Presiden Jokowi tidak diseret-seret terlibat politik parktis terkait bursa calon Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar era mendatang.

"Tidak boleh ada yang mengklaim mendapatkan dukungan dari Pak Jokowi, siapapun itu," kata Maruarar di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (28/08/2019) kemarin.

Jokowi, kata Maruarar, adalah politisi yang meniti karir dari bawah dan bukan keturunan elit dengan kekuatan ekonomi yang hebat. Karenanya, "Pak Jokowi pasti sangat menghargai proses demokrasi,".

Dua nama yang santer menjadi bakal calon Ketum Golkar mendatang, yakni Bambang Soesatyo (Ketua DPR RI) dan Airlangga Hartarto (Ketum Golkar saat ini), dinilai Maruarar, memang memiliki komunikasi yang baik dengan Jokowi. Satu sebagai pembantu (menteri), yang kedua sebagai mitra kerja (Ketua DPR RI).

Tapi Maruarar menegaskan, "tidak boleh ada yang mengkalim didukung oleh Pak Jokowi,".

Bamsoet, sapaan akrab Bambang Soesatyo dan Airlangga, mesti bersaing secara sportif dengan mental petarung tanpa menyeret-nyeret nama Presiden.

"Kalau kita berdemokrasi, bukan feodal," ujar politisi yang akrab disapa Ara itu.

Namun secara pribadi, kata Ara, dirinya mendukung Bamsoet untuk menjadi Ketua Umum Golkar menggantikan Airlangga. Ara, mengaku mengenal sangat baik sosok Bamsoet baik sejak lama. Dalam politik, Bamsoet dinilai telah bertransformasi dari politisi menjadi negarawan.

"Saat proses meninggal dunianya istri SBY, Bu Ani Yudhoyono, Bamsoet datang dengan santun," kata Ara menyinggung rekam jejak Bamsoet membongkar kasus Century.

Ia menandaskan, "karir Bamsoet, jangan berhenti hanya sebagai Ketua DPR saja,".***

wwwwww