Loading...    
           

Kalimantan Dibidik Spekulan? Kekhawatiran Sandiaga jadi Kenyataan

Kalimantan Dibidik Spekulan? Kekhawatiran Sandiaga jadi Kenyataan
Eks. Calon Wakil Presiden RI, Sandiaga Salahudin Uno.
Kamis, 29 Agustus 2019 03:09 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Sehari setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan lokasi Ibu Kota Negara, muncul kekhawatiran atas kemunculan mafia tanah. Demikian pembuka berita BBC Indonesia.

Dalam lansiran berita berjudul "Ibu kota baru di Kalimantan Timur: 'Mulai muncul spekulan tanah, harga tanah naik'" itu disebutkan, Kecamatan Sepaku dan Kecamatan Samboja telah ditetapkan menjadi lokasi pembangunan pusat pemerintahan baru pada 2024.

Pejabat di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur pun, telah memperingatkan penduduk agar tak melepas tanah mereka meski diiming-imingi harga tinggi.

Camat Sepaku, Risman Abdul mengatakan, "Sudah mulai spekulan-spekulan tanah masuk ke sini, takutnya masyarakat diimingi-imingi harga tinggi dan melepas tanah mereka. Akhirnya mereka terpinggirkan,".

"Biasanya harga tanah di sini Rp30 juta per hektar. Sekarang ada yang menawar Rp70 juta per hektar," sambungnya.

Saat ini, jumlah penduduk di Kecamatan Sepaku sekitar 36 ribu jiwa, mayoritas warganya saat ini bekerja sebagai petani perkebunan sawit, karet, lada, dan sebagian lagi menjadi pekerja di perusahaan kayu PT ITCI Hutani Manunggal (IHM).

Kepada warga, Risman mengatakan, pihaknya telah melakukan sosialisasi. "Kita arahkan lewat desa untuk tidak menjual lahannya,".

Sebelumnya, Sabtu (16/08/2019) di hari Presiden Jokowi meminta izin secara terbuka untuk memindahkan Ibu Kota ke Kalimantan, kekhawatiran akan melonjaknya harga properti sempat diungkapkan oleh Eks. Cawapres 2019, Sandiaga Uno.

"Karena kita khawatir nanti harga properti naik semua di Pulau Kalimantan," ujar Sandi mengomentari.

Sandi menegaskan dirinya tak ingin terburu-buru menyatakan setuju atau menolak rencana pemindahan Ibu Kota. Dirinya, mengaku perlu mengakaji lebih dalam bersama para pakar terkait hal itu.***


       
        Loading...    
           
wwwwww