Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
15 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
14 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
3
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
4 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
4
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
4 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
5
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
4 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
6
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
4 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Home  /  Berita  /  Badminton

Yorris Raweyai Sebut Ada Pembatasan Peliputan Terkait Papua

Yorris Raweyai Sebut Ada Pembatasan Peliputan Terkait Papua
Yorris Raweyai
Senin, 18 November 2019 21:50 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Persoalan Papua terus-menerus ada dan menjadi isu disintegrasi bangsa. Sayangnya, media publisistik nasional masih tertinggal dari media-media asing dalam memberitakan situasi riil di Papua.

"Ada pembatasan pemberitaan di dalam negeri," kata Yorris Raweyai di Media Center DPD RI, Senayan, Jakarta, Senin (18/11/2019).

Yorris kemudian mencontohkan, dimana lasca 15 Agustus 2019, "di luar punya pemberitaan yang berbeda dengan di sini," saat kerusuhan di Papua pecah.

"Pasca (kerusuhan, red) Wamena yang terakhir saja, ada pembakaran, disini tidak ada pemberitaan, di luar negeri menjadi berita," kata Yorris.

Akses media, kata Yorris, ditutup. Sementara media asing, melalui satelitnya bisa melakukan apa saja. Semua kontak senjata antara KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) dengan TNI, Yorris mencontohkan, "itu live keluar. Minimal ke Oxford atau ke Canberra,".

Pemerintah Indonesia, kata Yorris, tidak memiliki satu badan yang bisa menjadi balancing pemberitaan internasional itu. ***

wwwwww