Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kerangkat Tim Persela Sudah Terbentuk Kata Nil Maizar
Sepakbola
18 jam yang lalu
Kerangkat Tim Persela Sudah Terbentuk Kata Nil Maizar
2
FSP Sinergi BUMN Pastikan Kawal Klasterisasi BUMN dan Ciptaker
Ekonomi
24 jam yang lalu
FSP Sinergi BUMN Pastikan Kawal Klasterisasi BUMN dan Ciptaker
3
HNW: Pencabutan Klaster Pendidikan Bukti RUU Ciptaker Bermasalah
MPR RI
22 jam yang lalu
HNW: Pencabutan Klaster Pendidikan Bukti RUU Ciptaker Bermasalah
4
TPS Keliling Riskan Kecurangan, DPR Minta Pemerintah Kaji Ulang
DPR RI
23 jam yang lalu
TPS Keliling Riskan Kecurangan, DPR Minta Pemerintah Kaji Ulang
5
PKS Gelar Lomba Pidato Biografi Tokoh Bangsa
DPR RI
23 jam yang lalu
PKS Gelar Lomba Pidato Biografi Tokoh Bangsa
6
Kadis Dukcapil pun Diminta Berkawan dengan Penjaga Makam
Pemerintahan
20 jam yang lalu
Kadis Dukcapil pun Diminta Berkawan dengan Penjaga Makam
Home  /  Berita  /  Lingkungan

Data Terbaru Banjir dan Longsor di Lebak-Banten

Data Terbaru Banjir dan Longsor di Lebak-Banten
Kondisi pengungsi di Banjar Irigasi, Lebak Gedong, Lebak.
Rabu, 08 Januari 2020 10:34 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Banjir dan longsor melanda Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, pada 1 Januari 2020. Masa tanggap darurat, diberlakukan hingga 14 Januari 2020 akibat besarnya dampak yang ditimbulkan.

Dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) di Kantor Kemenko PMK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (7/1/2020) terungkap, 30 Desa terdampak dalam banjir dan longsor kali ini. Tiga puluh desa tersebut meliputi wilayah 6 kecamatan yakni, Sajira, Maja, Cipanas, Curug Bitung, Cimarga, dan Lebakgedong.

Sedikitnya 10 korban meninggal dan 1 orang dinyatakan hilang dalam bencana yang juga jadi perhatian nasional itu. Sementara total pengungsi mencapai 3.227 KK yang tersebar di delapan pos pengungsian.

3.105 unit bangunan rusak, angka ini termasuk 1.410 rumah rusak berat, 421 rumah rusak ringan, dan 1.110 rumah terdampak lumpur, 140 sarana pendidikan, 27 kantor pemerintahan, 28 unit jembatan, dan jalan-jalan yang amblas.

Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy mengungkapkan, bagunan sekolah yang "hilang itu, SMP 4 dan SD Negeri 2. Tinggal sisa lantai saja,".

Kemarau panjang dan penambangan ilegal diduga menjadi penyebabnya rusaknya gunung Halimun. Permukaan gunung itu retak, sehingga ketika hujan berintensitas tinggi terjadi pada 1 Januari lalu, banjir dan longsor tak terhindarkan.

Untuk menjaga Halimun dan mencegah bencana serupa terjadi lagi, Pemprov Banten telah meminta Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar, "untuk segera dibangun pohon pinus, bisa 50 tahun,".***


wwwwww