AJI, IJTI, PWI dan LBH Pers Tegaskan Penolakannya atas Revisi Pasal Pers di RUU Cipta Kerja

AJI, IJTI, PWI dan LBH Pers Tegaskan Penolakannya atas Revisi Pasal Pers di RUU Cipta Kerja
Minggu, 16 Februari 2020 15:51 WIB
JAKARTA - AJI, IJTI, PWI dan LBH Pers menyatakan penolakannya atas usulan revisi pasal Undang Undang Pers yang disodorkan pemerintah melalui Rancangan UU Cipta Lapangan Kerja (UU Cipta Kerja).

RUU Cipta Kerja yang diserahkan Pemerintah pada DPR pada Rabu (12/2/2020) lalu itu dinilai membuka pintu bagi pemerintah untuk campur tangan lagi soal pers, setidaknya dalam dua pasal yaitu soal modal asing dan ketentuan pidana.

Dalam siaran pers AJI, IJTI, PWI dan LBH Pers pada Minggu (16/2/2020) dijelaskan, niat untuk campur tangan lagi ini terlihat dalam Ombnibus Law Cilaka yang akan membuat peraturan pemerintah soal pengenaan sanksi administratif terhadap perusahaan media yang dinilai melanggar pasal 9 dan pasal 12.

Pasal 9 memuat ketentuan soal perusahaan pers harus berbentuk badan hukum Indonesia. Pasal 12 mengatur soal perusahaan pers yang wajib mengumumkan nama, alamat dan penanggung jawabnya secara terbuka.

"Undang Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, yang menjadi payung hukum kebebasan pers saat ini, dibentuk dengan semangat self regulatory dan tak ada campur tangan pemerintah di dalamnya. Semangat itu tak bisa dilepaskan dari pengalaman buruk di masa Orde Baru, di mana pemerintah melakukan campur tangan sangat dalam di bidang pers. Campur tangan itu ditunjukkan melalui adanya kewenangan pemerintah untuk mencabut SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers), mengendalikan Dewan Pers dengan menempatkan Menteri Penerangan sebagai ketua secara ex-officio, dan menetapkan hanya satu organisasi wartawan yang diakui. Instrumen-instrumen itulah yang kemudian dipakai oleh pemerintah untuk mengendalikan dan mengekang pers," kutipan siaran pers itu.

Terkait sanksi denda bagi perusahaan pers, dalam usulannya, pemerintah mengajukan revisi soal sanksi denda bagi perusahaan pers yang melanggar ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2), serta Pasal 13, menjadi paling banyak Rp 2 miliar –naik dari sebelumnya Rp 500 juta. Pasal 5 ayat 1 mengatur tentang “Pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah. Pasal 5 ayat 2 berisi ketentuan soal “Pers wajib melayani Hak Jawab. Pasal 13 mengatur soal larangan pemuatan iklan yang antara lain merendahkan martabat suatu agama dan atau mengganggu kerukunan hidup antarumat beragama, serta bertentangan dengan rasa kesusilaan masyarakat.

"Kami mempertanyakan urgensi menaikkan denda sampai lebih dari 400 persen, dari Rp 500 juta menjadi Rp 2 miliar. Secara prinsip kami setuju ada sanksi atas pelanggaran yang dilakukan oleh pers. Namun, sanksi itu hendaknya dengan semangat untuk mengoreksi atau mendidik. Dengan jumlah denda yang sebesar itu, kami menilai semangatnya lebih bernuansa balas dendam. Adanya sanksi sebesar itu juga bisa dijadikan alat baru untuk mengintimidasi pers. Oleh karena itu, kami meminta usulan revisi pasal ini dicabut," kata mereka.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:GoNews Group, Umum, Hukum, Pemerintahan, Politik, DKI Jakarta

wwwwww