Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
21 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
21 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
3
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
23 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
4
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
19 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
5
Nyawa Atlet Di Ujung Bantingan (Edisi I)
Non Olympic
21 jam yang lalu
Nyawa Atlet Di Ujung Bantingan (Edisi I)
6
Denlson Junior Siap Hadapi Laga Panas Lawan Persija
Sepakbola
18 jam yang lalu
Denlson Junior Siap Hadapi Laga Panas Lawan Persija
Home  /  Berita  /  SEA Games

Epidemiolog UI Sebut Pemerintah Selalu Sangkal Hasil Temuan Tentang Corona Sejak Awal, Ini Fakta-faktanya

Epidemiolog UI Sebut Pemerintah Selalu Sangkal Hasil Temuan Tentang Corona Sejak Awal, Ini Fakta-faktanya
Epidemiolog UI Pandu Riono. (kompastv)
Senin, 20 April 2020 13:49 WIB
JAKARTA - Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia FKM UI Pandu Riono mengkritik sikap pemerintah yang selalu menangkap hasil temuan ahli tentang virus corona di Indonesia.

Sebelumnya juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mempertanyakan hasil analisis Pandu Riono yang menyebutkan virus corona sudah ke Indonesia sejak Januari 2020. Sedangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru mengumumkan pasien petama positif terinfeksi virus coronadi Tanah Air pada Maret.

Dikutip dari detikcom, Pandu menjelaskan dasar analisisnya yang menyebutkan virus corona sudah masuk ke Indonesia sejak Januari. Analisis itu, kata Pandu, berpangkal pada laporan Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengenai pasien dalam pengawasan (PDP) kasus corona.

''Itu kan saya harus menghitung kapan pandemi ini terjadi kan, saya mengamati data pelaporan Dinas Kesehatan, kapan mulai mereka menemukan PDP. Nah Itu mulai tercatat meningkat bulan Februari, Maret. Nggak mungkin virus itu datang langsung terjadi peningkatan itu. Jadi saya perkirakan itu dua minggu menurut pengetahuan penyakit epidemiologi penyakit menular 14 hari. Jadi, saya menemukannya mulai beredar minggu ketiga bulan Januari,'' jelas Pandu, Senin (20/4/2020).

Pandu juga menyoroti penerbangan langsung dari sejumlah kota di Indonesia ke Wuhan, China. Pemerintah, menurut Pandu, seharusnya sejak awak sudah mulai memikirkan mengenai adanya kemungkinan penyebaran virus corona dari Wuhan karena Indonesia mempunyai penerbangan langsung ke kota tersebut.

''Ketika ada wabah mereka harus memikirkan itu, karena sudah dikasih tahu ini ada laporan orang dengan Covid, artinya kemungkinan sudah masuk Indonesia tapi mereka membantah terus, menyangkal katanya hasil tesnya masih negatif. Indonesia akan bebas corona, kita bangsa yang virusnya nggak akan pernah masuk, kita minum jamu,minum empon-empon, tinggal berdoa saja. Sampai Menteri Kesehatan dibanggakan oleh wakil presiden dan semuanya karena berhasil mencegah pandemi yang sudah menyerang banyak negara,'' ujar Pandu.

Pandu juga menyentil pernyataan sejumlah pejabat yang terlalu percaya diri mengatakan Indonesia bebas virus corona. Padahal, sambung dia, kasus corona sudah dilaporkan sejak Januari dan Februari, tapi sikap pemerintah terus membantah.

''Laporannya berdasarkan tes, tapi kan pada awal bulan Januari. Pada Februari kasus yang ditemukan itu sudah dites, itu masih negatif. Itu artinya, banyak orang menduga memang kita belum siap melakukan tes itu, reagennya belum tersedia atau reagen salah,'' ujar dia.

Karena itu, Pandu menegaskan bahwa analisisnya mengenai kasus corona masuk ke Indonesia itu berdasarkan laporan dari data pemerintah. Hanya, menurut Pandu, pemerintah tidak memanfaatkan data itu dengan baik.

''Iya, nggak mungkin saya menarik kesimpulan dari anggota, artinya mereka itu tidak sensitif dengan isu kemungkinan pandemi ini, sehingga nyalah-nyalahin orang lain, padahal mereka sendiri tidak memanfaatkan hasil surveillance dan tidak memperbaiki, mempertanyakan kok hasilnya masih negatif,'' sambungnya.

Pandu juga mencontohkan kasus positif 1 dan 2 yang awalnya didiagnosis penyakit lain. Menurut dia, tidak ada peringatan dini dari pemerintah untuk menghadapi kemungkinan besar corona sudah menyebar di Indonesia.

''Nggak ada satu alarm atau peringatan dini dari Kementerian Kesehatan karena tidak menyadari kemungkinan besar virus itu sudah di Indonesia, penginnya dibantah, penginnya Indonesia bebas corona. Semangatnya seperti itu, jadi mereka itu denial sejak awal, jangan nyalahin orang lain. Mereka itu lalai dan menurut saya itu tidak memanfaatkan data yang sudah ada, denial terus sampai sekarang,'' beber dia.

Tidak Diberi Tahu

Sebelumnya, juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona Achmad Yurianto mengaku tidak pernah diberi tahu mengenai temuan FKM UI soal kasus corona sudah masuk ke Indonesia sejak Januari. Yuri justru mempertanyakan, kenapa FKM UI baru mengungkap temuannya saat ini.

''Pertanyaannya, kenapa baru bilang sekarang tidak di saat mereka meyakini ada kasus yang masuk ke Indonesia,'' kata Yuri, Ahad (19/4). ***

Editor:hasan b
Sumber:detik.com
Kategori:Nasional, SEA Games
wwwwww