Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
15 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
14 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
3
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
4 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
4
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
4 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
5
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
4 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
6
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
4 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Home  /  Berita  /  Olympic

Politikus PKB: Bubarkan Saja Stafsus Milenial, Tidak Ada Faedahnya

Politikus PKB: Bubarkan Saja Stafsus Milenial, Tidak Ada Faedahnya
Rabu, 22 April 2020 12:18 WIB
JAKARTA - Dua Staf Khusus Presiden Joko Widodo sedang jadi buah bibir masyarakat. Pertama, Andi Taufan Garuda Putra akibat surat permintaan kepada camat se-Indonesia. Kedua, Adamas Belva Syah Devara menuai kritik keras dari masyarakat usai perusahaan startup miliknya, Ruangguru mendapat anggaran sebagai mitra program kartu prakerja.

Politikus PKB Yaqut Cholil Qoumas mengusulkan staf khusus milenial Presiden Jokowi itu dibubarkan karena tidak berguna.

"Saya dari awal konsisten, bubarkan saja stafsus milenial ini. Tidak ada faedah," ujar dia kepada Merdeka.com, Rabu (22/4).

Namun, Wakil Ketua Komisi II ini mengatakan, kesalahan dalam mengambil keputusan merupakan hal yang wajar. Misalnya kesalahan Jokowi ketika memutuskan untuk membentuk dan merekrut stafsus milenial.

"Menurut saya, soal keputusan salah itu biasa saja," kata dia.

Tapi yang paling penting, kata Yaqut, yakni langkah yang diambil presiden setelah membuat keputusan yang dianggap salah lalu melakukan evaluasi dan perbaikan. Langkah perbaikan itulah yang saat ini sedang dinantikan oleh masyarakat Indonesia.

"Yang penting adalah respons atas kesalahan itu. Jika presiden segera mengevaluasi pembentukan stafsus milenial yang tidak berfaedah ini, maka publik akan mengapresiasi presiden sebagai pemimpin yang benar-benar mau dan mampu mendengarkan suara publik," tandasnya.

Staf Khusus Milenial Presiden Joko Widodo atau Jokowi, Adamas Belva Syah Devara mundur dari posisi staf khusus milenial presiden.

Belva mengaku Pengunduran diri tersebut telah disampaikan dalam bentuk surat kepada Jokowi pada 15 April 2020, dan disampaikan langsung ke Presiden pada 17 April 2020.

Belva diketahui sempat diisukan terlibat conflict of interest karena program prakerja milik pemerintah menggandeng perusahaannya, yakni Ruang Guru.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Merdeka.com
Kategori:Banten, DKI Jakarta, Badminton, Nasional, Voli, Ekonomi, Olympic
wwwwww