Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Seiring 'New Normal', Portal Akses 'Pemicu Konflik' Baiknya Dibuka
Lingkungan
18 jam yang lalu
Seiring New Normal, Portal Akses Pemicu Konflik Baiknya Dibuka
2
Tak Setuju 'New Normal'? Ini Pesan Hergun...
DPR RI
19 jam yang lalu
Tak Setuju New Normal? Ini Pesan Hergun...
3
Pilkada Desember 2020 Dinilai sebagai Pemerkosaan Politik
DPD RI
22 jam yang lalu
Pilkada Desember 2020 Dinilai sebagai Pemerkosaan Politik
4
'New Normal' saat Sekarang Disebut bisa Menjadi Dosa Kebijakan
DPR RI
23 jam yang lalu
New Normal saat Sekarang Disebut bisa Menjadi Dosa Kebijakan
5
Legislator Minta Pemerintah Buat Aturan Komprehensif Lindungi ABK WNI
DPR RI
23 jam yang lalu
Legislator Minta Pemerintah Buat Aturan Komprehensif Lindungi ABK WNI
6
Sukamta Sebut New Normal Hanya Kedok Pemerintah Tutupi Kegagalan Tangani Covid-19
DPR RI
19 jam yang lalu
Sukamta Sebut New Normal Hanya Kedok Pemerintah Tutupi Kegagalan Tangani Covid-19
Home  /  Berita  /  Internasional

PM Singapura: Kami Tangani Covid-19 Pakai Dana Sendiri, Bukan Dipinjam Seperti Negara Lain

PM Singapura: Kami Tangani Covid-19 Pakai Dana Sendiri, Bukan Dipinjam Seperti Negara Lain
PM Singapura Lee Hsien Loong. (akurat)
Minggu, 03 Mei 2020 16:49 WIB
SINGAPURA - Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong menjelaskan kepada rakyatnya bahwa pihaknya menyediakan dana $S60 miliar atau lebih dari Rp62 triliun untuk penanganan pandemi Covid-19.

Loong menjelaskan, dana itu digunakan membantu pekerja, UMKM, industri dan lainnya.

Dikutip dari Sinarharapan.co, Loong menegaskan, dana itu diambilkan dari cadangan nasional, bukan pinjaman.

''Tidak seperti pemerintah negara lain. Kami tidak meminjam melainkan mengambil dari cadangan nasional. Untuk itu kami berterima kasih kepada para pendahulu yang menerapkan nilai-nilai disiplin dan pandangan jauh ke depan,'' ujar Loong pada 30 April lalu.

Cadangan nasional Singapura dikelola dan dikembangkan oleh Otoritas Moneter Singapura, Government Investment Corporation (GIC) Private Limited dan Temasek Holdings (Temasek).

Ketiganya bergerak dalam bidang yang berbeda tetapi punya satu tujuan yakni meningkatkan nilai cadangan nasional dalam surat-surat berharga, mata uang asing, emas maupun investasi secara langsung tidak langsung.

GIC Private Limited didirikan pemerintah Singapura pada 22 Mei tahun 1981. GIC berinvestasi dalam berbagai ''keranjang'' untuk mengurangi resiko seperti instrumen pasar uang, ekuitas, fixed income, instrumen pasar uang, investasi khusus dan real estate.

Portofolio investasi GIC dikelola tiga anak perusahaannya: GIC Asset Management Pte Ltd (pasar publik), GIC Real Estate Pte Ltd, dan GIC Special Investments Pte Ltd (investasi ekuitas terbatas, private-equity investment).

GIC disebut mengelola aset lebih dari $S100 miliar. Tetapi Sovereign Wealth Institute memperkirakan jumlah dana yang dikelola mencapai S$250 miliar. Salah satu grup usaha dengan nilai aset terbesar di dunia.

GIC sudah merambah investasi langsung maupun tidak langsung dilebih dari 40 negara. Pada Februari 2020, mengakuisi gedung kembar milik , LG Twin Towers milik LG Group di Beijing, China seharga $S1,6 miliar.

Salah satu kunci keberhasilan GIC adalah mau memperkerjakan warga negara Singapura maupun asing yang berbakat dengan imbalan yang mahal. GIC juga dikenal berani mengambil resiko secara terukur.

Otoritas Moneter Singapura (MAS), yang merupakan gabungan dari bank sentral dan kementerian keuangan, menempatkan dana dalam bentuk emas,  mata uang asing, obligasi, Special Drawing Rights (SDR) dan cadangan khusus di Dana Moneter Internasional (IMF).

Menurut data MAS per Maret 2020 jumlah total dana yang ada ditangan MAS mencapai $S279.141,5 juta. Jumlah tersebut berubah dari waktu ke waktu.

Aset Temasek Holdings pada tahun lalu berjumlah $S313 juta. BUMN ini mengelola DBS Bank, Singapore Airlines, CapitaLand, ST Engineering, Singtel, Mediacorp, PSA International, Certis Group, SMRT Corporation, Surbana Jurong, Vertex Venture Holdings dan Digiland.

Sekalian perusahaan sudah sampai tahap anak beranak. Saling kait terkait satu sama lain dengan perusahaan dalam GIC maupun berkoordinasi dengan MAS. Dengan demikian karena ada tujuan dan budaya yang sama, maka resiko diperkecil.

Surbana Jurong, misalnya tahun lalu mendapat konsesi merancang master plan Kawasan Ekonomi Digital Nongsa, di Batam. Surbana dalam proyek ini bekerjasama dengan Sinar Mas Group. Tentu mudah diterka asal mula pendanaannya?

Peran Dr Gong Keng Swee

Mantan PM Lee Kuan Yew menyebut peran besar Dr Goh Keng Swee dalam pembentukan cadangan devisa nasional. Dr Goh mengelola cadangan tersebut secara rasional, strategis dan profesional.

Cadangan nasional, katanya pada ulang tahun ke 30 GIC, menjadi penyangga ketika terjadi krisis ekonomi tahun 2009. Neraca keuangan pemerintah yang sehat membuat investor yakin dan karenanya meningkatkan stabilitas dolar Singapura.

Pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan cadangan turut melengkapi revenue pemerintah.

Menurut data, pemerintahan PM Goh Chok Tong terpaksa menarik, dengan seizin Presiden, menarik S$4,9 miliar dari cadangan nasional untuk menutup defisit anggaran belanja.

Dampak krisis tidak sedalam yang diduga hingga pemerintah hanya menggunakan S$ 4 miliar. Dana itu dikembalikan lagi dua tahun kemudian ke kas negara.

Menyadari Kelemahan Bukan Kelebihan

Pembentukan cadangan nasional itu didasarkan kepada kesadaran Singapura tidak memiliki sumber daya alam tetapi sumber daya alam yang sesungguhnya adalah manusianya.

Atas dasar itu, pemerintah antara lain sangat mementingkan pendidikan dan meritokrasi.

Industri terbesar antara lain elektronika, produk-produk kimia, biomedical sciences, logistik dan engineering. Kontribusinya mencapai 20-25% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

PDB per kapita Singapura pada Desember 2019 mencapai US$63.233 ribu, sedangkan nominal PDB berjumlah US$91.738 miliar, ungkap CEIC.

Sektor lain yang turut menyumbang content development, perawatan kesehatan (rumah sakit), energi bersih, teknologi kesehatan, rekayasa kedirgantaraan dan sebagainya.

Singapura menganut kebijaksanaan ekonomi terbuka yang ditopang dengan sistem transportasi laut dan udara yang efisien.

Bandar Udara Changi yang memiliki empat terminal menghubungkan Singapura dengan 380 kota di 90 negara.

Pelabuhan lautnya menghubungkan Singapura dengan sekitar 600 pelabuhan dan 123 negara.

Pelabuhan kontainernya termasuk yang paling sibuk di dunia. Galangan kapalnya melayani perbaikan seribu kapal dalam setahun.

Singapura menjadi tuan rumah lebih dari 200 bank dan lembaga keuangan bukan bank, serta lebih dari 200 perusahaan pelayaran dari seluruh dunia.

Seolah seperti menggaris bawahi data di atas, Lee Hsien Loong dalam pidatonya pada 31 April lalu menyatakan, Singapore is small country but globalised.

Pemimpin Amanah

Kemampuan pemerintah Singapura merogoh kantong sendiri dalam menangani dampak wabah Covid -19 menunjukkan, contoh dari pengelola negara yang amanah.

Mereka menerapkan faham ajaran Kong Hu Cu antara lain tentang, bijaksana, cinta kasih dan berani. Keharusan hidup hemat, menabung , rajin, sungguh-sungguh, membenci kepalsuan, mengutamakan pendidikan, suci hati dan tahu malu.

Sebagai pendiri negara Lee Kuan Yew memberlakukan prinsip kapitalisme otoriter.

Dia menerapkan kebijaksanaan yang pragmatis ketimbang dogmatis. Memilih para menteri yang pandai. Membentuk Aparat Sipil Negara yang berkualitas. Mereka yang terbukti korupsi dihukum.

Pemerintah Singapura berhasil meningkatkan pendapatan penduduk dari US$300 per orang menjadi sekitar Rp 60 juta lebih pada Desember 2019. Pengusaha Zhang Yong disebut yang terkaya dengan aset sedikitnya S$16,4 miliar atau sekitar Rp 164 triliun.

Sepertinya tak mungkin Zhang kaya dari hasil korupsi, pat gulipat atau maling sana, maling sini.

Kesimpulannya, pemilikan cadangan yang besar selain memperkokoh posisi dalam pergaulan internasional, juga tak perlu tengok kanan-tengok kiri bila ada krisis. Ini cadangan pemerintah, bukan pribadi. ***

Editor:hasan b
Sumber:sinarharapan.co
Kategori:Internasional

wwwwww