Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Terlalu Riskan PB Perpani Tetap Ngotot Singkirkan Tiga Pemanah Elit
Olahraga
20 jam yang lalu
Terlalu Riskan PB Perpani Tetap Ngotot Singkirkan Tiga Pemanah Elit
2
Hetifah Harap Arahan Presiden Diterjemahkan dalam Program-program Nyata
DPR RI
21 jam yang lalu
Hetifah Harap Arahan Presiden Diterjemahkan dalam Program-program Nyata
3
Fahri: Keberagaman di Nusantara Bisa Jadi Format bagi Indonesia untuk Mempersatukan Dunia
Politik
8 jam yang lalu
Fahri: Keberagaman di Nusantara Bisa Jadi Format bagi Indonesia untuk Mempersatukan Dunia
4
Jokowi Targetkan Ekonomi Tumbuh 4,5 sampai 5,5 Persen, Fadel: Ini Pecutan bagi Menterinya
Ekonomi
23 jam yang lalu
Jokowi Targetkan Ekonomi Tumbuh 4,5 sampai 5,5 Persen, Fadel: Ini Pecutan bagi Menterinya
5
Orang Tua Murid Waspadalah! Ada Gambar Porno di Tugas Belajar Siswa
Pendidikan
22 jam yang lalu
Orang Tua Murid Waspadalah! Ada Gambar Porno di Tugas Belajar Siswa
6
Aksi Tolak Omnibus Law Chaos di Yogyakarta
Peristiwa
21 jam yang lalu
Aksi Tolak Omnibus Law Chaos di Yogyakarta
Home  /  Berita  /  Kesehatan

Paguyuban Diaspora Tana Ai Jabodetabek Sayangkan Warga NTT Ngotot Aktivitas di Tempat Ibadah saat Corona

Paguyuban Diaspora Tana Ai Jabodetabek Sayangkan Warga NTT Ngotot Aktivitas di Tempat Ibadah saat Corona
Ketua Umum Paguyuban Diaspora Tana Ai se-Jabodetabek, Dominikus Desse Lewuk. (dok. pribadi)
Senin, 11 Mei 2020 03:39 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Ketua Umum Paguyuban Diaspora Tana Ai se-Jabodetabek, Dominikus Desse Lewuk, menyayangkan sikap ngotot warga Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT, yang ingin beribadah di tempat ibadah.

Padahal menurut dia, pemerintah sudah mengeluarkan larangan bagi seluruh umat pemeluk agama apapun untuk melakukan ibadah di rumah ibadah.

"Kami sangat menyesalkan sikap sejumlah warga di Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT, yang ngotot ingin beribadah di dalam rumah ibadatnya. Sikap yang mau menang sendiri dan tidak mematuhi kebijakan pemerintah dalam situasi darurat ini bukan merupakan sikap yang terpuji," ujar Domi, Minggu (10/5/2020) dinihari di Jakarta.

Ngototnya warga tersebut, kata Domi, justru akan mengganggu rasa kebersamaan dan persaudaraan yang selama ini dikenal tanpa memandang suku dan agama yang telah lama berkembang di kalangan masyarakat Talibura, termasuk Nangahale.

Paguyuban Diaspora Tana Ai se-Jabodetabek, kata Domi, meminta semua tokoh agama untuk lebih bijaksana dalam menghadapi situasi darurat Covid-19 ini.

"Berikanlah penjelasan dan informasi yang benar kepada umat yang dipimpinnya bahwa wabah ini sungguh mengerikan dan mematikan. Wabah ini tanpa medan tempur, tanpa melihat tempat suci. Wabah ini tidak memiliki rasa kemanusiaan. Wabah ini sungguh kejam, tidak menghormati anak-anak, perempuan dan tempat ibadah. Siapa pun dan dimana pun, wabah Covid-19 ini bisa menular dan menyerang," urainya Domi, yang juga berprofesi sebagai jurnalis ini.

Demi keselamatan masyarakat, terutama di Kecamatan Talibura, dan seluruh wilayah Kabupaten Sikka, ia juga meminta aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap siapa pun yang melanggar protokol pencegahan Covid-19.

"Bagi yang membandel dan melawan, harus ditindak tegas agar yang bersangkutan tidak menyebarkan bibit-bibit yang dapat mengganggu hidup bersama masyarakat di Kabupaten Sikka," tandasnya.

Selain itu, ia mengajak seluruh masyarakat di Kabupaten Sikka, dan Pulau Flores umumnya agar terus meningkatkan solidaritas dan mempererat persaudaraan dalam melawan Covid-19. "Mari kita sama-sama mematuhi protokol penecagahan, yakni belajar dari rumah, bekerja dari rumah, beribadah dari rumah, hindari kerumunan, cuci tangan pakai sabun dan selalu menggunakan masker. Hanya dengan cara ini wabah mematikan tersebut dapat dicegah," ajaknya.

Menurut Domi, semua harus punya kesadaran membantu pemerintah yang saat ini masih terus berupaya mencegah penularasan virus mematikan ini. ***


wwwwww