Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Terapkan New Normal, DPR Minta Pemerintah Tak Tergesa-gesa
Peristiwa
20 jam yang lalu
Terapkan New Normal, DPR Minta Pemerintah Tak Tergesa-gesa
2
Ketua DPD RI Ajak Elemen Bangsa Gotong Royong Tekan Covid-19
Politik
20 jam yang lalu
Ketua DPD RI Ajak Elemen Bangsa Gotong Royong Tekan Covid-19
3
Petani Mengamuk, Lalu Bacok Istri hingga Tewas Mengenaskan
Umum
20 jam yang lalu
Petani Mengamuk, Lalu Bacok Istri hingga Tewas Mengenaskan
4
Syarief Hasan : Tap MPRS No. XXV/1966 Beri Kepastian Hukum dalam RUU HIP
Politik
20 jam yang lalu
Syarief Hasan : Tap MPRS No. XXV/1966 Beri Kepastian Hukum dalam RUU HIP
5
Dugaan Gratifikasi, KPK Tangkap Mantan Sekretaris MA Nurhadi dan Menantunya di Jakarta Selatan
Hukum
20 jam yang lalu
Dugaan Gratifikasi, KPK Tangkap Mantan Sekretaris MA Nurhadi dan Menantunya di Jakarta Selatan
6
DMI: Kapasitas Masjid Hanya Boleh 40 Persen Saat New Normal
Kesehatan
19 jam yang lalu
DMI: Kapasitas Masjid Hanya Boleh 40 Persen Saat New Normal
Home  /  Berita  /  Peristiwa

Cegah Karhutla, TMC Basahi Lahan Gambut di Riau dan Sumsel

Cegah Karhutla, TMC Basahi Lahan Gambut di Riau dan Sumsel
Sejumlah petugas sedang berupaya memadamkan api yang membakar tiga hektare lahan gambut di Dusun Keluarga, Gampong Medang Ara, Kecamatan Langsa Timur, Kota Langsa, Aceh. ANTARA
Rabu, 13 Mei 2020 18:17 WIB
JAKARTA - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyatakan operasi TMC dilakukan utamanya untuk menjaga lahan gambut tetap basah dan mencegah kemunculan titik panas (hotspot) menjelang puncak musim kemarau mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Kita memasuki musim kemarau, memasuki puncak musim kemarau pada Juli-Agustus mendatang, oleh karena itu hampir bisa dipastikan bahwa tinggi muka air gambut akan terus menerus menyusut, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) diharapkan bisa menahan laju penurunan tinggi muka air tanah gambut tersebut sehingga diharapkan bisa mengurangi terjadinya kebakaran hutan dan lahan," kata Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT Tri Handoko Seto dalam konferensi video, Jakarta, Rabu.

Sesuai ketentuan pemerintah, tinggi muka air tanah (TMAT) gambut harus terjaga paling rendah 40 cm dari permukaan gambut.

Operasi TMC pada periode ini dilakukan selama 30 hari ke depan yakni 15 hari di Provinsi Riau dan sekitarnya, kemudian 15 hari di Provinsi Sumatera Selatan.

TMC diupayakan untuk dapat berkontribusi menahan laju penurunan TMAT gambut di tengah musim kemarau dan saat puncak musim kemarau, karena pada musim itu, laju penurunan muka air akan terjadi dengan cepat.

Dengan TMC, dapat dilakukan pembasahan lahan gambut untuk meningkatkan tinggi muka air tanah gambut sehingga lahan gambut tidak mengering.

"Prediksi ke depannya adalah memasuki musim kemarau yang semakin parah menuju puncak musim kemarau pasti akan terjadi pengurangan air di sana, penurunan muka air tanah gambut," ujar Seto.

Data menunjukkan bahwa tingkat "hotspot" atau tingkat keterbakaran selalu berkorelasi dengan tingkat hujan, sementara tingkat hujan berkorelasi dengan tingkat kebasahan gambut atau tingkat tinggi muka air tanah gambut.

Dengan TMC, maka diharapkan awan-awan di atas daerah-daerah target bisa disemai untuk menurunkan hujan sehingga curah hujan yang diperoleh cukup tinggi untuk dapat memastikan bahwa tinggi muka air tanah gambut di daerah tersebut tetap terjaga.

Dengan memanfaatkan data dari BPPT, Badan Restorasi Gambut dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dapat diketahui secara baik kondisi lahan gambut di hutan Indonesia sehingga bisa membangun stratgi untuk mencegah lahan gambut kering karena akan rentan terbakar.

Seto menuturkan pihaknya juga memberikan perhatian khusus pada daerah-daerah yang memang setiap tahunnya terdapat banyak titik panas (hotspot) atau daerah yang berulang kali terbakar.

"Data gambutnya kita monitor, kalau ada awan di sana maka kita hujankan di sana sehingga harapan kita tidak terjadi penurunan tinggi muka air gambut," tuturnya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:ANTARA
Kategori:Umum, Peristiwa, Pemerintahan, GoNews Group, DKI Jakarta

wwwwww