Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Maju Pilkada Bengkalis, Istri Tersangka Korupsi Didukung 4 Partai
Politik
18 jam yang lalu
Maju Pilkada Bengkalis, Istri Tersangka Korupsi Didukung 4 Partai
2
Sebut Santri Tahfidz Qur'an sebagai Calon Teroris, Gus Jazil Minta Denny Siregar Minta Maaf
Politik
23 jam yang lalu
Sebut Santri Tahfidz Quran sebagai Calon Teroris, Gus Jazil Minta Denny Siregar Minta Maaf
3
Viral Pegawai Starbucks Intip Payudara Pelanggan Lewat CCTV
Peristiwa
22 jam yang lalu
Viral Pegawai Starbucks Intip Payudara Pelanggan Lewat CCTV
4
Bandara Sudah Sediakan Rapid Test, Masyarakat Sudah Bisa Manfaatkan Penerbangan
Politik
23 jam yang lalu
Bandara Sudah Sediakan Rapid Test, Masyarakat Sudah Bisa Manfaatkan Penerbangan
5
Kualitas Sinyal Operator Buruk saat Pandemi, DPR Panggil Telkomsel, Indosat dan XL Axiata
Politik
23 jam yang lalu
Kualitas Sinyal Operator Buruk saat Pandemi, DPR Panggil Telkomsel, Indosat dan XL Axiata
6
Sebut Rp2,7 Triliun Bukan Angka Kecil, Nasir Djamil: Segera Usut Kasus Pemalsuan Label SNI
Politik
22 jam yang lalu
Sebut Rp2,7 Triliun Bukan Angka Kecil, Nasir Djamil: Segera Usut Kasus Pemalsuan Label SNI
Home  /  Berita  /  Kesehatan

Alih-Alih Tekan Resiko Covid-19, Anjuran Penggunaan Vitamin C Massal bisa Untungkan Korporasi

Alih-Alih Tekan Resiko Covid-19, Anjuran Penggunaan Vitamin C Massal bisa Untungkan Korporasi
Ilustrasi: Ist.
Selasa, 26 Mei 2020 15:40 WIB
JAKARTA - Pakar epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono menyatakan, bahwa anggapan vitamin C berguna untuk menurunkan resiko dari Corona/Covid-19, tidak berbasis bukti sama sekali dan hanya berbasis mitos.

Pernyataan Pandu, merespons protokol kesehatan Covid-19 untuk tempat kerja agar menyediakan suplemen vitamin C saat penerapan new normal.

Mengutip Tempo, menurut Pandu, anjuran menyediakan suplemen itu hanya akan menguntungkan perusahaan farmasi yang memproduksi vitamin C. Dia menduga saat ini produsen suplemen vitamin C sudah mulai memproduksi suplemen vitamin C dalam jumlah besar untuk persiapan kebijakan tatanan baru atau new normal.

"Bisa jadi perusahaan vitamin C sudah langsung membuat produk yang akan banyak diserap New Normal ini," kata Pandu, dikutip Selasa (26/5/2020).

Virus Covid-19 memang dikabarkan terus bermutasi, sehingga tak cukup dikenali betul oleh para ahli yang saat ini sedang bekerja. Dari 3 kategori virus Covid-19 yang ada di dunia, covid-19 yang ada di Indonesia juga belum diketahui masuk ke kategori yang mana.

Menurut Dr. Kaufman dalam sebuah wawancara di LondonReal, tidak dimurnikannya virus menjadi kesalahan fatal yang membuat penanganan menjadi tak tepat.

Mentalis Indonesia, Deddy Corbuzier juga sempat menyinggung soal pemurnian virus ini dalam wawancara bersama mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang tengah berstatus narapidana. Tapi wawancara Deddy, kini jadi polemik lantaran dianggap tak sesuai prosedur yang diberlakukan Ditjen PAS.

Di Indonesia BRIN dan Eijkman disebut sebagai pihak yang sebenarnya memiliki kapasitas untuk memurnikan virus Covid-19. Ombudsman sempat berdiskusi dengan Eijkman tapi tak tercatat membahas soal pemurnian.

Sementara DPR, dalam hal ini Komisi VII, juga belum diketahui mendorong adanya upaya pemurnian terhadap virus Covid-19. Salah satu anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Golkar yang dimintai pandangan terkait hal ini, juga belum menjawab pesan singkat singkat GoNews.co.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, GoNews Group, Kesehatan, Nasional

wwwwww