Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
7 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
Metropolitan
16 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
3
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
9 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
4
Gibran Tak Penuhi Syarat Wapres Usai Putusan MA, Bola Panas Kini di Tangan Prabowo
Umum
10 jam yang lalu
Gibran Tak Penuhi Syarat Wapres Usai Putusan MA, Bola Panas Kini di Tangan Prabowo
5
‎Pulogebang Terima Apresiasi Rp100 Juta dari PAM JAYA Berkat Perluasan Layanan Air
Metropolitan
24 jam yang lalu
‎Pulogebang Terima Apresiasi Rp100 Juta dari PAM JAYA Berkat Perluasan Layanan Air
6
KPK Geledah PT Djarum Kudus, Dugaan Manipulasi Cukai Belasan Tahun Rugikan Negara Triliunan
Hukum
12 jam yang lalu
KPK Geledah PT Djarum Kudus, Dugaan Manipulasi Cukai Belasan Tahun Rugikan Negara Triliunan
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Jangan Sia-siakan Amanat Pendiri Bangsa jika Tak Ingin Indonesia Terjebak dalam Pusaran Konflik

Jangan Sia-siakan Amanat Pendiri Bangsa jika Tak Ingin Indonesia Terjebak dalam Pusaran Konflik
Ketua Umum Partai Gelora, Anis Matta. (dok. Pribadi)
Kamis, 25 Juni 2020 15:34 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Bangsa Indonesia pasca reformasi seperti mengalami anti klimaks, sehingga tidak ada lagi narasi besar yang menjadi energi untuk mendorong capaian-capaian besar. Bangsa Indonesia saat ini terjebak dalam pusaran konflik yang tak punya arah.

Tujuan bernegara yang telah dipancangkan oleh para pendiri bangsa (founding fathers) dan amanat UUD 1945 juga sudah jarang terdengar dibicarakan oleh para elit, apalagi rakyat.

Hal ini diperparah adanya kecenderungan para pemimpin sekarang yang membawa paradigma konflik gaya lama ke tengah-tengah masyarakat. Akibatnya, menciptakan polarisasi rakyat dan membuat masyarakat terbelah.

Demikian pandangan Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia melihat realitas bangsa Indonesia akhir-akhir ini.

"Harusnya kita sudah bicara peran-peran global ditengah dunia yang sedang mencari alternatif jalan keluar dari krisis ini," kata Anis Matta dalam keterangannya, Rabu (24/6/2020).

Bangsa Indonesia , menurut Anis, lebih banyak membicarakan perbedaan-perbedaan primordial, daripada membahas narasi narasi besar yang bisa melampaui semua perbedaan.

"Ini adalah situasi berbahaya bagi bangsa kita untuk mampu menghadapi dan menjawab tantangan krisis global, yang hampir pasti akan sangat mempengaruhi kehidupan berbangsa kita," katanya.

Dari realitas tersebut, maka diperlukan narasi Arah Baru Indonesia yang menghidupkan kembali spirit dan cita-cita, serta amanat para pendiri bangsa. Yakni satu-satunya obsesi besar menjadikan Indonesia lima besar kekuatan dunia.

"Agar hadir sejajar dengan bangsa-bangsa lain untuk ikut serta menjaga ketertiban dunia adalah amanat founding fathers yang harus kita tunaikan," tutur Anis.

Obsesi ini sepintas dianggap sebagai utopia (khayalan) belaka di tengah situasi krisis saat ini. Namun , bangsa Indonesia tidak boleh kehilangan mimpi akan masa depannya dan cita-cita menjadi kekuatan lima besar dunia. Hal ini, kata Anis Matta, harus dijadikan obsesi dikepala seluruh rakyat Indonesia.

"Menjadi kekuatan kelima dunia maknanya, adalah kita ingin Indonesia ini duduk satu meja dengan kekuatan global yang lainnya seperti Amerika Serikat, Rusia, Eropa dan China sebagai sebuah kekuatan global baru. Yang akan menciptakan keseimbangan dalam percaturan global," pungkasnya.***

wwwwww