Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
KUR UMKM Penyelamatan Ekonomi Nasional Berperan Penting Saat Pandemi Covid-19
Pemerintahan
18 jam yang lalu
KUR UMKM Penyelamatan Ekonomi Nasional Berperan Penting Saat Pandemi Covid-19
2
Soal Kalung Corona Kementan, Ahli Epidemologi: Kecap dan Cuka juga Bisa Bunuh Virus, Tapi Jangan Sembarang Klaim
Kesehatan
4 jam yang lalu
Soal Kalung Corona Kementan, Ahli Epidemologi: Kecap dan Cuka juga Bisa Bunuh Virus, Tapi Jangan Sembarang Klaim
3
New Normal, MPR Kembali Gelar Pentas Seni Budaya Sunda dan Kuliner Lokal di 'Kota Hujan'
MPR RI
4 jam yang lalu
New Normal, MPR Kembali Gelar Pentas Seni Budaya Sunda dan Kuliner Lokal di Kota Hujan
4
Sore Ini, Gus Jazil Jemput PMI Bebas dari Hukuman Mati di Bandara Soetta
Politik
5 jam yang lalu
Sore Ini, Gus Jazil Jemput PMI Bebas dari Hukuman Mati di Bandara Soetta
5
Tak Setuju Dibubarkan, Wakil Ketua MPR RI: OJK Perlu Direformasi
Ekonomi
4 jam yang lalu
Tak Setuju Dibubarkan, Wakil Ketua MPR RI: OJK Perlu Direformasi
6
Fraksi PAN minta Kalung Anticorona Diteliti
Kesehatan
5 jam yang lalu
Fraksi PAN minta Kalung Anticorona Diteliti
Home  /  Berita  /  Politik

Syarief Hasan Dorong Perdamaian Dunia melalui Gagasan 'World Consultativ Assembly'

Syarief Hasan Dorong Perdamaian Dunia melalui Gagasan World Consultativ Assembly
Wakil Ketua MPR RI, Syarief Hasan. (Istimewa)
Kamis, 25 Juni 2020 14:59 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Beberapa waktu yang lalu, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) menggagas Dewan Majelis Syura atau Majelis Permusyawaratan di antara negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Majelis tersebut diproyeksi menjadi forum berhimpunnya MPR dari berbagai negara-negara yang berpenduduk agama Islam di dunia.

Berkaitan hal itu, Wakil Ketua MPR RI, Syarief Hasan mendorong agar Dewan Syura Dunia tersebut dinaikkan kelasnya menjadi World Consultative Assembly dan anggotanya bukan hanya negara-negara Islam. Tujuannya agar terjadi kolaborasi yang baik dari negara maju dan berkembang untuk menyelesaikan masalah Perdamaian global.

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat ini juga mendorong agar World Consultative Assembly diisi oleh negara dengan sistem parlemen satu kamar (unikameral) maupun sistem parlemen dua kamar (bikameral).

"Penyelesaian berbagai masalah Perdamaian, lingkungan global dan sebagainya menuntut partisipasi semua negara dengan lintas sektor, lembaga, dan sistem pemerintahan. Di sinilah urgensi perlunya World Consultative Assembly didorong untuk lebih majemuk dan bersama-sama agar dapat menyelesaikan masalah yang juga majemuk," ujar Syarief Hasan dalam keterangannya, Kamis (25/6/2020).

Menurutnya berbagai masalah global saat ini tidak dapat diselesaikan hanya oleh komunitas kecil atau beberapa negara saja, mulai dari masalah perdamaian, keamanan, demokrasi, HAM dan toleransi, kesenjangan ekonomi, kemiskinan, dan kesenjangan pembangunan. Berbagai tantangan tersebut perlu disikapi serius bersama-sama dengan melibatkan negara maju dan berkembang dengan berbagai sistem parlemennya masing-masing.

"Inilah prinsip Pancasila yang tertuang pada sila keempat yang harus dibangun oleh MPR RI melalui World Consultative Assembly. Sebuah prinsip untuk menyelesaikan masalah bersama lewat musyawarah sebagai masyarakat dunia. Setiap negara diberikan ruang untuk saling bantu membantu dalam mengatasi masalah yang tidak dapat diatasi oleh satu Negara saja. Terlebih jika masalah tersebut menjadi masalah global," ungkap Syarief Hasan.

Ia melanjutkan, kehadiran Majelis Permusyawaratan Dunia atau World Consultative Assembly akan melengkapi dan menguatkan peran Indonesia di berbagai organisasi dunia seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, OKI, dan Liga Muslim Dunia.

"Keberadaan World Consultative Assembly harus didorong agar lebih mendunia dan Indonesia yang menjadi penggagas utama Majelis Permusyawaratan Dunia ini akan menguatkan peran sentral Indonesia dalam menggagas berbagai organisasi dunia dan gerakan internasional. Dulu, pendahulu kita pernah menggagas ASEAN, Gerakan Non-Blok, sampai yang fenomenal yakni Konferensi Asia Afrika. Saatnya kita menggagas kembali organisasi internasional yang lebih luas cakupannya, lebih inklusif, dan lebih berorientasi pada penyelesaian masalah-masalah global," tutup Syarief Hasan.***


wwwwww