Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Sempat Dikira Hoaks, Kasus Anak yang Dibuang Ibu di Jalanan di Riau Sudah Ditangani Polisi
Peristiwa
22 jam yang lalu
Sempat Dikira Hoaks, Kasus Anak yang Dibuang Ibu di Jalanan di Riau Sudah Ditangani Polisi
2
Cerita Viral Anak Dibuang Dengan Sepucuk Surat, Orangtua Cabut Kuku Tangan Anak Pakai Tang
Peristiwa
22 jam yang lalu
Cerita Viral Anak Dibuang Dengan Sepucuk Surat, Orangtua Cabut Kuku Tangan Anak Pakai Tang
3
Misterius, Mushola Darussalam Pasar Kemis Dicoret-Coret OTK dengan Tulisan 'Saya Kafir' dan Anti Islam
Peristiwa
12 jam yang lalu
Misterius, Mushola Darussalam Pasar Kemis Dicoret-Coret OTK dengan Tulisan Saya Kafir dan Anti Islam
4
DPR Sampaikan Duka Cita Longsor Tarakan
DPR RI
17 jam yang lalu
DPR Sampaikan Duka Cita Longsor Tarakan
5
10 Santri Ponpes Selamat dan 15 Petugas UPPKB Subah Positif Covid-19
Kesehatan
12 jam yang lalu
10 Santri Ponpes Selamat dan 15 Petugas UPPKB Subah Positif Covid-19
6
Parlemen minta Pemerintah Turunkan Harga Tes Swab
DPR RI
16 jam yang lalu
Parlemen minta Pemerintah Turunkan Harga Tes Swab
Home  /  Berita  /  Politik

Adu Kuat Dua Jenderal di Pilpres 2024, Siapa Menang?

Adu Kuat Dua Jenderal di Pilpres 2024, Siapa Menang?
Jum'at, 14 Agustus 2020 16:38 WIB
JAKARTA - Selain kalangan sipil, ada juga kalangan militer seperti Prabowo Subianto dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang berpeluang maju Pilpres 2024. Belakangan, juga muncul nama mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dan KSAD Jenderal Andika Perkasa yang dinilai tengah dilirik partai politik. Bagaimana kans Gatot dan Andika di 2024?

"Semuanya tergantung dari popularitas dan elektabilitas keduanya,” kata analis politik asal Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin di Jakarta, Kamis (13/8/2020).

Ujang menganggap, jika popularitas dan elektabilitas keduanya sebagai capres-cawapres tinggi, partai-partai politik akan berdatangan. Namun sebaliknya, jika elektabilitas keduanya rendah, partai-partai akan lari.

Menurutnya, faktor utama dukungan parpol itu terkait dengan tinggi atau rendahnya popularitas dan elektabilitas bakal capres. Dia menganggap, seleksi alamiah capres dan cawapres itu ada pada popularitas dan elektabilitas.

"1Jika popularitas dan elektabilitasnya tinggi, akan melaju. Namun jika jeblok, akan mundur teratur," ujar Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini.

Sebelumnya, pengamat politik Idil Akbar mengatakan, selain nama yang sering dibicarakan publik saat ini seperti Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, masih ada calon lainnya. Idil mengungkapkan, calon dari kalangan militer dan pensiunannya masih memiliki potensi untuk maju dalam Pilpres 2024.(Baca juga: 4 Gubernur Berpeluang Nyapres, Ini Elektabilitasnya).

Pada Pilpres 2019, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo sempat digadang-gadang. Namun, tidak ada partai yang mengusungnya. Idil menyebut Gatot dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian masih punya peluang untuk diusung empat tahun yang akan datang.

"Sejauh ini, dari beberapa yang masuk radar dan kita juga membuat catatan secara kualitatif, ada nama KSAD Jenderal Andika Perkasa, sudah mulai dilirik oleh beberapa tokoh dan partai politik. Beliau mulai intens muncul," kata Idil di Jakart, Kamis (13/8/2020).

Cukup Berat

Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin mengatakan Gatot Nurmantyo berhak untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada 2024. Namun, ia menakar peluangnya cukup berat bagi sang jenderal.

"Namun soal peluang itulah yang menjadi masalah bagi dirinya. Dia tak punya partai. Tuk jadi capres atau cawapres butuh perahu," kata Ujang di Jakarta, Rabu (13/8/2020).

Menurut dia, Gatot memiliki banyak kendala untuk memuluskan niatnya menggantikan Joko Widodo. Syarat pertama, kata Ujang, Gatot harus memiliki kendaraan politik, yang sampai sekarang belum dipunyai.

Selain itu, Gatot yang telah pensiun dari dinas militer sejak Desember 2017 itu akan kesulitan karena tidak lagi muncul sebagai pejabat publik. Pasalnya, sosok capres harus memiliki bergain untuk diunggulkan.

"Kedua, soal jabatan. Dia gak punya jabatan lagi untuk bargaining pencapresan. Ketiga, soal popularitas dan elektatabilitas yang belum kelihatan," tuturnya.

Ujang mengingatkan kepada Gatot, jika ingin tetap maju sebagai capres maka harus memenuhi tiga syarat tersebut. Jika dari sejak sekarang masih lempeng-lempeng saja maka itu akan memberatkan niatnya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Harian Terbit
Kategori:Pemerintahan, Politik, GoNews Group, DKI Jakarta

wwwwww