Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua DPD Diminta Hadiri Peresmian Gelar Pangeran LaNyalla Mahmud Mattalitti Hardonagoro
DPD RI
12 jam yang lalu
Ketua DPD Diminta Hadiri Peresmian Gelar Pangeran LaNyalla Mahmud Mattalitti Hardonagoro
2
Gerindra Umumkan 12 Waketum: Habiburokhman Masuk, Poyuono Out
Politik
17 jam yang lalu
Gerindra Umumkan 12 Waketum: Habiburokhman Masuk, Poyuono Out
3
DPP Demokrat Ikhlas jika Pilkada Ditunda, Tapi Ini Syaratnya
Politik
17 jam yang lalu
DPP Demokrat Ikhlas jika Pilkada Ditunda, Tapi Ini Syaratnya
4
PKS: Kalau Mau Rakyat Selamat, Pilkada Wajib Ditunda!
Politik
17 jam yang lalu
PKS: Kalau Mau Rakyat Selamat, Pilkada Wajib Ditunda!
5
Rachmawati Soekarnoputri Ditunjuk Jadi Dewan Pembina Gerindra
Politik
17 jam yang lalu
Rachmawati Soekarnoputri Ditunjuk Jadi Dewan Pembina Gerindra
6
Sebelum ada Vaksin, Jusuf Kalla Minta Pilkada Ditunda
Politik
16 jam yang lalu
Sebelum ada Vaksin, Jusuf Kalla Minta Pilkada Ditunda
Home  /  Berita  /  Olahraga

Terlalu Riskan PB Perpani Tetap Ngotot Singkirkan Tiga Pemanah Elit

Terlalu Riskan PB Perpani Tetap Ngotot Singkirkan Tiga Pemanah Elit
Riau Ega Agata Salsabila saat melakukan latihan di lapangan panahan Kertajaya Surabaya, Jumat (14/8/2020). (Ist)
Jum'at, 14 Agustus 2020 21:38 WIB
Penulis: Azhari Nasution

KEPUTUSAN Keliru. Itu sebutan yang paling pas terhadap Surat Keputusan PB Perpani bernomor 220/KU/PB Perpani/VIII/2020 tertanggal 8 Agustus 2020 tentang pencoretan atlet panahan Olimpiade Tokyo 2021 yang ditandatangani Ketua Umum PB Perpani, Illiza Sa'auddin Djamal. Apalagi, anggota Komisi X DPR RI ini tetap ngotot mempertahankan keputusan yang bisa berdampak merugikan persiapan Tim Panahan Indonesia menuju Olimpiade Tokyo 2021.

Tindakan pencoretan yang disebutnya semata-mata demi tegaknya aturan organisasi plus ditambah dengan menolak kehendak ketiga atlet asal Jawa Timur untuk melibatkan Denny Trijanto sebagai pelatih dalam pelatnas Olimpiade 2021 itu mungkin bisa dikaji ulang. Pasalnya, kasus serupa pernah terjadi pada cabang olahraga bulutangkis pada tahun 2001.

Saat itu, pebulutangkis Taufik Hidayat pernah berseteru dengan PB.PBSI gara-gara pelatih Mulyo Handoyo yang selama ini melatih dirinya didepak dari Pelatnas. Taufik bersikeras tetap ingin dil;atih Mulyo Handoyo sampai-sampai dia mengancam pindah bermain untuk Singapura.

Ketua Umum PBSI Subagyo HS dibuat murka atas sikap nyeleneh Taufik itu meski pada akhirnya mantan Kasad ini luluh dan Mulyo tetap bertahan di pelatnas. Hubungan antara Taufik Hidayat dengan Mulyo memang sangat dekat secara psikologis, bukan hanya sekedar pelatih juga keduanya saling terlibat diskusi tentang perkembangan permainan Taufik.

Tidak sia-sia PBSI mengalah dengan menuruti keinginan Taufik Hidayat. Hasilnya pun luar biasa, Taufik juara Olimpiade 2004, Athena, juara dunia 2005 di Annaheim, AS dan dua kali medali emas Asian Games masing-masing 2002 di Busan, Korsel dan 2006 di Doha, Qatar.

Perlawanan yang dilakukan Riau Ega Agata Salsabila, Diananda Choirunisa dan Asiefa Nur Haensa untuk mempertahankan Denny Trisjanto cukup wajar. Sebab, cabang olahraga panahan Indonesia memastikan tiket ke Olimpiade Tokyo 2021 berkat prestasi yang diukir Riau Ega meraih medali perunggu nomor recurve putra dan Diananda Choirunisa mendapatkan medali perak nomor recurve putri pada Asian Games 2018.

Semua paham bahwa Riau Ega Agata Salsabila, Diananda Choirunisa dan Asiefa Nur Haensa menjadi atlet elit panahan nasional berkat sentuhan Danny Trijanto yang juga Ketua Pengprov Perpani Jawa Timur itu. Dan, kita juga paham Diananda Choirunisa merupakan sepupu Denny Trisjanto yang beristri sang legenda panahan Indonesia, Lilies Handayani yang merupakan anggota trio srikandi penyumbang medali perak Olimpiade Seoul 1988.

Sama halnya hubungan Taufik dan Mulyo Handoyo, hubungan psikologis dan emosi antara ketiga pemanah dengan Denny juga sulit dipisahkan. Begitu juga memaksa ketiganya untuk mau ditangani pelatih pilihan PB Perpani dalam menjalankan program latihan pelatnas Olimpiade Olimpiade. Belum lagi munculnya informasi program latihan pelatnas Olimpiade yang dipaparkan Denny Trisjanto dan Dito Rembran terbaik dari pelatih lainnya.

Diananda Choirunisa. (Ist)

Itulah yang harus dipahami Illiza Sa'auddin Djamal. Tidak ada salahnya jika mantan Walikota Banda Aceh ini mengubah keputusan tersebut. Apalagi, dia menyebut belum punya solusi lain untuk menyelesaikan kemelut yang terjadi di pelatnas panahan Olimpiade saat ditanyakan pada jumpa pers virtual, Kamis (13/8/2020).

Mengubah keputusan itu bukan berarti PB Perpani kalah tetapi paling tidak telah menghargai perjuangan mereka sekaligus menyelamatkan masa depan ketiga atlet elit tersebut. Bagaimana pun Riau Ega, Diananda dan Asiefa Nur Haensa masih yang terbaik dan tidak bisa terbantahkan. Pada Asian Games Jakarta 2018, Riau Ega mencatat 649 poin dan Diananda dengan 662 poin yang jelas melampaui poin minimal.

Memang PB Perpani punya hak untuk mengganti ketiganya. Begitu juga dengan waktu persiapan Pelatnas Panahan Olimpiade untuk menghadapi World Cup di Paris, Juni 2021 yang merupakan babak kualifikasi terakhir menuju Tokyo 2021 yang cukup panjang. Namun, pergantian itu belum bisa menjamin prestasi yang diukir Riau Ega dan Diananda dapat disamakan atau terlampaui. Apalagi, jurang prestasi antara kedua atlet elit yang menjadi andalan tersebut sangat jauh dengan pemanah lainnya.

Di Olimpiade Tokyo 2021, cabang olahraga panahan mempertandingkan 5 nomor. Yakni, recurve perorangan putra, recurve perorangan putri, recurve beregu putra, recurve beregu putri dan recurve campuran (Mix). Di World Cup Paris Juni 2021, PB Perpani pun sudah menyampaikan keinginan menambah kuota ke Tokyo. Bahkan, Illiza pun sudah menyebut ada keinginannya mengulang sejarah di Olimpiade Seoul 1988.

Lantas bagaimana bilamana pada World Cup nanti keinginan menambah kuota tiket ke Tokyo tidak terpenuhi dan pengganti yang dijagokan ternyata meraih skor di bawah Riau Ega dan Diananda? Perlu dicatat cabang olahraga panahan itu adalah olahraga terukur. Jadi, kita bisa memprediksi peluang medali yang didapatkan. Semoga ada solusi terbaik. 

Penulis: Azhari Nasution, wartawan Gonews.co Group 


wwwwww