Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ciptaker Untungkan Keuangan Syariah Menurut LDK PP Muhammadiyah
Ekonomi
6 jam yang lalu
Ciptaker Untungkan Keuangan Syariah Menurut LDK PP Muhammadiyah
2
MPR Minta Pemerintah Prioritaskan Pendidikan Nasional
Pendidikan
22 jam yang lalu
MPR Minta Pemerintah Prioritaskan Pendidikan Nasional
3
Alasan MPR Puji Langkah Gubernur Yogyakarta Hadapi Covid-19
Nasional
22 jam yang lalu
Alasan MPR Puji Langkah Gubernur Yogyakarta Hadapi Covid-19
4
BAZNAS Resmikan Balai Ternak 'Mendo Manbumi'
Ekonomi
21 jam yang lalu
BAZNAS Resmikan Balai Ternak Mendo Manbumi
5
Pemuda Diminta Bersiap jadi Pemimpin
Nasional
21 jam yang lalu
Pemuda Diminta Bersiap jadi Pemimpin
6
Bayu Gabung Persib, Robert Alberts: Pemain Masa Depan
Sepakbola
9 jam yang lalu
Bayu Gabung Persib, Robert Alberts: Pemain Masa Depan
Home  /  Berita  /  Peristiwa

Jadi Korban Salah Tangkap saat Demo, Dosen UMI Makassar Dipukul dan Diseret Polisi

Jadi Korban Salah Tangkap saat Demo, Dosen UMI Makassar Dipukul dan Diseret Polisi
Korban salah tangkap. (Istimewa)
Senin, 12 Oktober 2020 12:26 WIB
MAKASSAR - Seorang dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar berinisial AM menjadi korban salah tangkap dan pemukulan oleh oknum polisi. Ia menjadi korban pemukulan oknum polisi saat aksi unjuk rasa tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja pada 8 Oktober 2020 lalu.

Korban AM menjelaskan kronologi kejadian itu berawal saat dirinya berada di depan salah satu minimarket di Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar. Ia berada di lokasi itu hendak menuju ke tempat print yang berada di depan Kampus Universitas Bosowa.

Tapi karena kondisi unjuk rasa saat itu memanas, dirinya terjebak. Tiba-tiba polisi datang dan menangkap semua yang diduga terlibat dalam aksi unjuk rasa itu.

Polisi yang melihatnya berada di dekat minimarket langsung menarik dan menyeret korban hingga beberapa kali jatuh akibat pukulan yang dilayangkan oleh oknum polisi. Meski sempat mengeluarkan identitas dan mengatakan seorang dosen.

"Saat itu saya mundur mendekat ke minimarket dan saya tidak lari, karena saya tidak terlibat dalam aksi itu. Saya keluarkan KTP dan bilang bahwa saya adalah dosen. Tapi tetap dibawa," ungkapnya saat menggelar Konferensi Pers di Kantor Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PHBI) Sulsel, Minggu (11/10/2020).

Tidak hanya kekerasan fisik yang korban alami, ia bercerita bahwa saat di mobil oknum polisi juga melontarkan kekerasan verbal yang membawa nama profesinya sebagai seorang dosen yang ia nilai tidak pantas dilontarkan oleh oknum penegak hukum seperti polisi.

Sementara itu, Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum PBHI Sulsel Syamsul Marlin akan melaporkan dan mengawal kasus salah tangkap dan pemukulan korban AM saat aksi penolakan Omnibus Law berapa hari lalu.

"Kasus ini kita akan laporkan ke Polda Sulsel besok,dan bukan hanya di Polda Sulsel saja, Kompolnas dan HAM kasus ini kami laporkan juga," ucapnya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Gelora.co
Kategori:Peristiwa, Pendidikan, Pemerintahan, Politik, Sulawesi Selatan
wwwwww