Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Carol Renwarin Meninggal Dunia, Hermensen Ballo: Saya Kehilangan Pelatih Sekaligus SahabatĀ 
Olahraga
13 jam yang lalu
Carol Renwarin Meninggal Dunia, Hermensen Ballo: Saya Kehilangan Pelatih Sekaligus SahabatĀ 
2
Mahkamah Kehormatan Majelis MPR RI segera Dibentuk
Nasional
7 jam yang lalu
Mahkamah Kehormatan Majelis MPR RI segera Dibentuk
3
Roda Citilink Tersangkut Layang-layang, Pesawat masih Layak Terbang
Peristiwa
10 jam yang lalu
Roda Citilink Tersangkut Layang-layang, Pesawat masih Layak Terbang
4
Polri: Gedung Kejagung Hangus Gegara Rokok dan Cairan Pembersih
Peristiwa
18 jam yang lalu
Polri: Gedung Kejagung Hangus Gegara Rokok dan Cairan Pembersih
5
Bos Penyedia Bahan Pembersih Juga Jadi Tersangka Kebakaran Kejagung
Peristiwa
17 jam yang lalu
Bos Penyedia Bahan Pembersih Juga Jadi Tersangka Kebakaran Kejagung
6
Perwira Polisi yang Bawa 16 Kg Sabu Dipecat, Kapolda Riau: Dia Pengkhianat Bangsa
Riau
9 jam yang lalu
Perwira Polisi yang Bawa 16 Kg Sabu Dipecat, Kapolda Riau: Dia Pengkhianat Bangsa
Home  /  Berita  /  Kesehatan

WHO Sebut Obat Ini Efektif Sembuhkan Pasien Covid-19 Gejala Parah, Baru Satu-satunya

WHO Sebut Obat Ini Efektif Sembuhkan Pasien Covid-19 Gejala Parah, Baru Satu-satunya
Dexamethasone, obat efektif sembuhkan pasien Covid-19 dengan gejala parah. (matthew horwood/getty/images/detikcom)
Sabtu, 17 Oktober 2020 12:49 WIB

JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan hingga kini hanya dexamethasone yang terbukti efektif menyembuhkan pasien Covid-19 dengan gejala parah.

Sementara itu, Uji Coba Terapi Solidaritas WHO menyimpulkan bahwa obat remdesivir dan interferon, hanya sedikit efeknya dalam mencegah kematian terkait virus corona atau mengurangi waktu di rumah sakit.

''Untuk saat ini, dexamethasone kortikosteroid masih satu-satunya terapi yang terbukti efektif melawan Covid-19, untuk pasien dengan penyakit parah,'' ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Ghebreyesus, seperti dikutip dari detik.com yang melansir Anadolu Agency, Sabtu (17/10/2020).

Tedros menjelaskan, Solidarity Trial adalah uji coba terkontrol acak terbesar di dunia untuk terapi Covid-19, yang melibatkan hampir 13.000 pasien di 500 rumah sakit di 30 negara.

Sebelumnya WHO menghentikan percobaan obat hidroksiklorokuin pada bulan Juni dan kombinasi lopinavir dan ritonavir pada bulan Juli, dengan alasan bahwa kedua terapi tersebut hanya membawa sedikit penurunan pada kematian pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit.***

Editor:hasan b
Sumber:detik.com
Kategori:Kesehatan
wwwwww