Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
13 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
12 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
3
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
7 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
4
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
Hukum
7 jam yang lalu
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
5
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
7 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
6
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Sepakbola
6 jam yang lalu
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Home  /  Berita  /  Olympic

Firli Ngaku Tahun 2002 Sudah Baca Buku yang Diposting Anies, Ternyata Baru Terbit Pertama Tahun 2018

Firli Ngaku Tahun 2002 Sudah Baca Buku yang Diposting Anies, Ternyata Baru Terbit Pertama Tahun 2018
Ilustrasi Ketua KPK dan Gubernur DKI Jakarta. (Foto: Istimewa)
Selasa, 24 November 2020 18:45 WIB
JAKARTA - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri turut mengomentari postingan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat membaca buku 'How Democracies Die'. Anies memposting fotonya saat membaca buku 'How Democracies Die' melalui akun resmi instagram pada Minggu, 22 November 2020.

Menurut Firli, buku 'How Democracies Die' yang dibaca Anies Baswedan dan kemudian diposting di halaman instagramnya, adalah buku lama. Firli mengklaim, dirinya sudah lama membaca buku tersebut, jauh sebelum Anies Baswedan.

"Kemarin saya lihat ada di media, Pak Anies membaca 'How Democracies Die'. Sebelum itu ada bukunya 'Why Nations Fail', itu sudah lama saya baca pak, tahun 2002 saya sudah baca buku itu," ujar Firli, dilansir Okezone Selasa (24/11/2020).

"Kalau ada yang baru baca sekarang, kayak baru bahwa ya itu udah lama. Nah makanya banyak yang mengkritisi. Udah lama buku itu pak," imbuhnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan isi dalam buku 'How Democracies Die' tersebut. Salah satunya isi dalam buku tersebut, kata Firli, kegagalan negara dalam mencapai tujuannya adalah karena maraknya tindak pidana korupsi.

"Disitu (buku How Democracies Die) dikatakan salah satunya negara banyak gagal menuju tujuannya karena korupsi," ungkap Firli.

"Karena korupsi tidak hanya sekadar kejahatan merugikan keuangan negara, tidak hanya kejahatan sekedar merugikan perekonomian negara, tetapi korupsi adalah kejahatan yang merasuk ke seluruh sendi-sendi kehidupan," sambungnya

Firli tak memungkiri, perilaku korupsi dapat merusak seluruh sendi kehidupan. Dia menyebut, penanganan korupsi dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama, melakukan penyelamatan keuangan dan negara.

Kemudian yang kedua, menjamin tersampaikannya hak-hak politik dan sosial. Terakhir atau yang ketiga, ujar Firli, menjamin keselamatan bangsa dan warga negara. "Tiga hal itu yang harus kita pahami Kenapa kita harus melakukan pemberantasan korupsi," pungkasnya.

Namun pernyataan Firli jadi perbincangan netizen. Berdasarkan penelusuran, buku 'How Democracies Die' baru terbit pertama pada tahun 2018. Sedangkan buku 'Why Nation Fail' terbit pertama tahun 2012. Lalu buku apa yang dibaca Firli pada tahun 2002 itu?

Aktivis Ravio Patra menertawai klaim Firli melalui akun twitternya. "LMAO", celetuknya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Okezone.com
Kategori:Olympic, Voli, Metropolitan, DKI Jakarta
wwwwww