Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
23 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
2
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
Hukum
19 jam yang lalu
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
3
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Umum
19 jam yang lalu
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
4
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
15 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
5
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
15 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
6
PP FTI Prihatin dan Kecewa Triathlon Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
14 jam yang lalu
PP FTI Prihatin dan Kecewa Triathlon Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
Home  /  Berita  /  Nasional

DPR Dinilai Perlu Memastikan Ketersediaan Informasi Publik

DPR Dinilai Perlu Memastikan Ketersediaan Informasi Publik
Suasana rapat paripurna pembukaan masa sidang III tahun sidang 2020 - 2021 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (11/1/2023). Karena pembatasan kehadiran fisik, 73 anggota dilaporkan hadir secara fisik dan 310 anggota hadir secara virtual. (Gambar: ist./dpr ri)
Senin, 11 Januari 2021 15:51 WIB

JAKARTA - Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus menilai, pembatasan kehadiran fisik (termasuk dalam rapat-rapat) di Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, bisa menjadi alasan dari terbengkalainya pelayanan publik yang mungkin saja terjadi.

"Ada bahaya ketika semuanya serba dibatasi, DPR bisa saja merancang proses yang sembunyi-sembunyi untuk memuluskan kepentingan sepihak mereka dalam pembuatan kebijakan tertentu. Protokol kesehatan akan menjadi senjata pamungkas untuk membenarkan proses tertutup yang akan dilakukan. Ini tentu berbahaya karena DPR sebagai lembaga perwakilan lebih kental menjadi alat politik partai ketimbang rakyat," kata Lucius kepada GoNews.co, Senin (11/1/2021).

Menurut Lucius, di tengah pemberlakuan pembatasan kehadiran fisik, DPR perlu memastikan bahwa informasi publik selalu tersedia di situs resmi DPR.

"Informasi publik tentu tak bisa disederhanakan dengan menyediakan rekaman live streaming untuk rapat-rapat yang dilakukan, tetapi bahan-bahan tertulis serta data-data pendukung juga harus dibuka ke publik. Risalah, catatan rapat, laporan singkat, dan model-model pelaporan tertulis lain harus dilakukan cepat agar publik punya referensi pembaruan dalam mengikuti proses pembuatan kebijakan oleh DPR," kata Lucius.

Lebih jauh, menurut Lucius, tuntutan ketersediaan informasi ini lebih mendesak bagi DPR ketimbang soal keterbukaan informasi, karena keterbukaan informasi tanpa ada informasi sama saja bohong.

"Maka yang paling mendesak, siapkan secara serius informasi untuk publik dan kalau sudah siap, sampaikan itu ke publik secepatnya," kata Lucius.

Lucius memungkasi, tentu pekerjaan-pekerjaan teknis administratif tersebut merupakan tugas Kesetjenan, akan tetapi kemauan politik DPR untuk menyediakan informasi itu menjadi modal bagi DPR untuk mendorong Kesetjenan menyediakan informasi.

"Jadi ini kerja DPR sebagai lembaga yang sekaligus menjadi tanggungjawab pimpinan DPR untuk mewujudkannya," kata Lucius.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, Badminton, Kriminal, Nasional, Metropolitan
wwwwww