Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Timnas U 23 Gagal Uji Coba, Yunus Nusi Yang Harus Bertanggung Jawab
Olahraga
22 jam yang lalu
Timnas U 23 Gagal Uji Coba, Yunus Nusi Yang Harus Bertanggung Jawab
2
Diprotes Banyak Pihak, Bareskrim Polri Akan Cabut Status Tersangka 6 Laskar FPI yang Meninggal Dunia
Hukum
19 jam yang lalu
Diprotes Banyak Pihak, Bareskrim Polri Akan Cabut Status Tersangka 6 Laskar FPI yang Meninggal Dunia
3
Bantah Iming-imingi Uang Rp 100 Juta untuk Kudeta, Jhoni Allen Akui KLB Butuh Biaya
Peristiwa
19 jam yang lalu
Bantah Iming-imingi Uang Rp 100 Juta untuk Kudeta, Jhoni Allen Akui KLB Butuh Biaya
4
Usai Rendang Mendunia, Kini Rawon Sabet Posisi Pertama Sup Terenak se-Asia
Pemerintahan
18 jam yang lalu
Usai Rendang Mendunia, Kini Rawon Sabet Posisi Pertama Sup Terenak se-Asia
5
Tak Tergoda Tawaran, Renan da Silva Tetap Bersama Bhayangkara FC
Sepakbola
16 jam yang lalu
Tak Tergoda Tawaran, Renan da Silva Tetap Bersama Bhayangkara FC
6
Status Tersangka 6 Anggota Laskar FPI Sudah Dicabut, Ini Penjelasan Polri
Hukum
18 jam yang lalu
Status Tersangka 6 Anggota Laskar FPI Sudah Dicabut, Ini Penjelasan Polri
Home  /  Berita  /  Internasional

Rumahnya Dihancurkan Israel, Warga Palestina di Homsa Hidup Beratapkan Langit Saat Badai Salju Turun

Rumahnya Dihancurkan Israel, Warga Palestina di Homsa Hidup Beratapkan Langit Saat Badai Salju Turun
Barang-barang milik warga Palestina berserakan setelah rumah mereka dihancurkan tentara Israel. (bbc.com)
Minggu, 21 Februari 2021 08:08 WIB
ORDAN VALLEY -- Puluhan warga Palestina di Desa Homsa al-Baqia, di timur kota Tubas di Lembah Jordan, menderita kedinginan saat badai salju turun pekan ini. Mereka terpaksa berada di tempat terbuka karena rumahnya dihancurkan tentara Israel.

Hingga Sabtu (20/2/2021), Harb Abu-Elkbash (48 tahun) dan puluhan warga Homsa lainnya, sudah memasuki malam kesembilan hidup beratapkan langit dalam kondisi sangat dingin.

Dikutip dari Republika.co.id, tentara Israel yang menyerbu desanya, Homsa al-Baqia, tidak hanya menghancurkan rumahnya, namun juga merobohkan tenda dan kandang dombanya.

Ads

Saat badai salju turun di Palestina pada Rabu lalu, tentara Israel mencegah penduduk desa berlindung di tenda-tenda. Sejak pertama kali pada 3 November tahun lalu, buldoser Israel telah berulang kali menghancurkan desa ini. Sisa-sisa tenda, gudang, toilet portabel, dan panel surya milik 11 keluarga terlihat berserakan di seluruh lahan pertanian.

Ketika penduduk desa seperti Harb mencoba membangun kembali tempat penampungan untuk mereka dan ternak mereka, tentara Israel kembali menghancurkan. Selain itu, mereka juga memaksa penduduk untuk menghabiskan malam tanpa atap.

Harb mengatakan, mereka berhasil memperbaiki barang-barang mereka yang dihancurkan tentara Israel dua bulan lalu, namun tentara Israel kembali datang dan menyitanya.

''Mereka datang lagi dua kali dalam beberapa hari terakhir dan menyita semua peralatan pertanian kami, toilet portabel, dan bangunan logam untuk kamar dan tenda kami,'' kata Harb, dilansir Anadolu Agency, Ahad (21/2).

Pada Selasa lalu, tentara Israel menyerbu desa itu ketika delegasi diplomat Eropa mengunjungi desa. Semua persediaan yang dibawa penduduk disita. ''Kami adalah 65 orang yang hidup tanpa tempat berlindung, air, dan listrik,'' ujar dia.

Tentara Israel malah mendukung dan melindungi lebih dari 10 pemukiman Yahudi yang didirikan di sekitar Homsa. Pemukiman tersebut memiliki semua fasilitas dasar dan diizinkan untuk melakukan aktivitas pertanian.

''Mereka tidak mengizinkan saya mengambil air dari sumur yang jaraknya 300 meter dari tenda saya. Saya harus menempuh perjalanan dua jam setiap malam untuk membawa air untuk keluarga saya. Kalau saya pergi siang hari, tentara akan menyita mobil saya,'' kata dia.

Bencana Besar

Direktur Urusan Lembah Jordan di Tubas, Motaz Bsharat, menggambarkan situasi ini sebagai bencana besar. ''Ini merupakan sebuaha kejahatan yang sempurna. Mereka semua hidup di tempat terbuka.  Tentara tidak mengizinkan untuk mengakses desa. Kami tidak bisa membantu atau menyelamatkan mereka,'' kata Bsharat.

Mengungsi dari gurun Negev pada 1948, Harb dan keluarga lainnya telah tinggal di desa tersebut sejak sebelum 1967. ''Keluarga saya datang ke sini sebelum 1967 dan sekarang Israel mengklaim tanah kami adalah zona militer dan ingin mengusir kami,'' ucap dia.

Harb mengaku tentara Israel tidak peduli terhadap kehidupan para penduduk desa. Dia juga menyayangkan anak-anaknya hidup dalam kondisi yang mengerikan.

''Keponakan saya baru berusia tiga hari ketika tentara menghancurkan tenda kami untuk pertama kalinya. Mereka mengambil tenda kami saat hujan,'' ucap dia.

Israel bertujuan untuk menguasai lebih dari 70 ribu dunum atau hampir 17.300 hektare tanah di daerah tersebut. Menurut penduduk setempat, banyak anak Palestina telah diserang dalam beberapa bulan terakhir saat mereka pergi ke sekolah.

''Pendudukan Israel mencoba mengambil daerah di sebelah timur Jalan Raya Ayalon untuk mengisolasi Tepi Barat dan menguasai tanah subur Lembah Jordan yang merupakan sumber makanan Tepi Barat,'' kata Pejabat  Komisi Kolonisasi dan Perlawanan Dinding, Qasem Awwad.

Menurut komisi tersebut, lebih dari 200 perusahaan telah dihancurkan empat kali yang menyebabkan kerugian finansial lebih dari 3 juta dolar Amerika. ''Homsa telah dihancurkan sembilan kali, tiga kali dalam pekan pertama Februari,'' tambah dia.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Peristiwa, Internasional
wwwwww