Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kalahkan Brian Yang, Vito Melaju ke Perempatfinal
Olahraga
21 jam yang lalu
Kalahkan Brian Yang, Vito Melaju ke Perempatfinal
2
Surati Menkumham, Kapolri dan Menkopolhukam, AHY Minta KLB PD Ilegal di Sumut Dihentikan
Politik
19 jam yang lalu
Surati Menkumham, Kapolri dan Menkopolhukam, AHY Minta KLB PD Ilegal di Sumut Dihentikan
3
Kubu Pro dan Penolak KLB Demokrat Bentrok, Pegawai SPBU dan Sekuriti Terluka
Peristiwa
17 jam yang lalu
Kubu Pro dan Penolak KLB Demokrat Bentrok, Pegawai SPBU dan Sekuriti Terluka
4
Jika Moeldoko Berhasil Kudeta, Demokrat Bisa Dapat Jatah Menteri dari Jokowi
Politik
18 jam yang lalu
Jika Moeldoko Berhasil Kudeta, Demokrat Bisa Dapat Jatah Menteri dari Jokowi
5
Tok...! Moeldoko Ditetapkan KLB Kubu Kontra AHY Jadi Ketum Demokrat
Peristiwa
16 jam yang lalu
Tok...! Moeldoko Ditetapkan KLB Kubu Kontra AHY Jadi Ketum Demokrat
6
Izin Laga Timnas Keluar, Iwan Bule: Hanya 272 Orang Yang Boleh di Lapangan
Sepakbola
20 jam yang lalu
Izin Laga Timnas Keluar, Iwan Bule: Hanya 272 Orang Yang Boleh di Lapangan
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Masuk Lima Besar Produsen Kopi Dunia, Nasib Petani Indonesia Kok Belum Serjahtera?

Masuk Lima Besar Produsen Kopi Dunia, Nasib Petani Indonesia Kok Belum Serjahtera?
Ilustrasi petani kopi Indonesia. (Foto: Istimewa)
Senin, 22 Februari 2021 14:43 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia, bersama Brazil, Vietnam, Kolombia, dan Ethiopia.

Prestasi ini tentu sangat membanggakan. Namun bagaimana dengan nasib petani kopi Indonesia?.

Sejatinya, petani tidak butuh prestasi, tapi petani butuh kesejahteraan. Merujuak pada data International Coffe Organization (ICO, menunjukkan bahwa konsumsi kopi dunia pada periode 2016 sampai 2020 tumbuh sekitar 1,9% atau menjadi 157,38 juta karung yang berjumlah 60 kg dari periode sebelumnya.

Ads

Meningkatnya konsumsi kopi global tentunya memberikan dampak positif bagi Indonesia sebagai negara eksportir kopi terbesar kedua di dunia.

Dari penelusuran GoNews.co berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (DJPKP), kopi Indonesia yang diekspor mencapai 467.790 ton dengan nilai US$ 1,19 miliar atau setara dengan Rp 16 triliun dengan kurs rupiah Rp 14 ribu per dolar Amerika Serikat.

Meningkatnya ekspor komoditas pertanian Indonesia, khususnya kopi, seringkali tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan petani sebagai produsen dari komoditas tersebut.

Ya, nnasib petani kopi tidak semerbak sewangi biji kopi. Banyak petani kopi justru tercatat sebagai penerima bantuan beras rakyat miskin (Raskin). Artinya mereka tercatat sebagai penduduk miskin yang mengandalkan keberlanjutan hidup dari subsidi pangan yang diberikan oleh pemerintah.

Hal itu disebabkan karena selama ini mayoritas petani tidak memiliki posisi tawar dalam menentukan harga jual kopi, yang membuat kehidupan mereka tetap miskin meskipun bisnis kopi terus menggeliat, belum lagi rantai pasok yang berada dibawah kendali tangan tengkulak yang ikut bermain di dalamnya.

Selama ini petani Kopi Indonesia tidak mempunyai daya tawar. Petani kalah dengan tengkulak. Mereka hanya menjadi objek dari transaksi yang tidak adil yang diterapkan oleh tengkulak.

Buat Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, fakta ini sangat menyedihkan, Ia pun berharap nasib petani kopi diperhatian dengan serius.

LaNyalla mengatakan, keberhasilan Indonesia menjadi salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia, didukung dengan sumber daya alam yang melimpah. "Potensi alam kita sangat berlimpah. Hal ini memerlukan penanganan yang serius agar kita mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat," ujarnya, Senin (22/2/2021).

Ditambahkannya, kontur tanah serta iklim yang ada di Indonesia sangat menunjang hal tersebut. Total produksi kopi di Indonesia, termasuk robusta dan arabika, adalah 660 ribu ton pada 2019-2020.

"Indonesia kaya dengan kopi. Kita pun termasuk lima besar penghasil kopi terbesar di dunia dengan kualitas kopi yang tinggi, dengan jenis kopi robusta dan arabika," terangnya.

Senator asal Jawa Timur itu menambahkan, Indonesia memiliki sekitar 1,2 juta hektare tanaman kopi yang sebagian besar dihasilkan oleh pertanian kecil dan mandiri.

"Masing-masing petani kopi diperkirakan memiliki satu hingga dua hektar lahan kopi. Salah satunya adalah Garut yang cukup besar menghasilkan kopi dan telah ekspor. Untuk itu dukungan harus diberikan agar produksi bisa terus ditingkatkan," katanya.

Hanya saja, di masa pandemi Covid-19 usaha kopi juga turut terdampak. OLeh karena itu, LaNyalla menilai perlu dilakukan langkah pemulihan untuk sektor ini.

"Petani tidak dapat berdiri sendiri saat terjadi situasi di luar prediksi. Mereka memerlukan bantuan stimulan yang dapat pertumbuhan ekonomi kembali," kara pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PSSI itu.

Apalagi untuk ekspor, juga terdampak berkurangnya armada kapal rute luar negeri. Menyusul berhentinya armada pelayaran dalam negeri yang melayani rute internasional.

“Ini mengakibatkan perusahaan ekspor menunggu jadwal kapal asing. Konsekuensinya waktu tunggu dan penambahan biaya shipment. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Pemerintahm kementerian perdagangan dan perhubungan harus turun tangan,” ungkap LaNyalla.

LaNyalla yang juga pernah menjadi Ketua Umum Kadin Jawa Timur mengatakan, varian kopi yang dimiliki Indonesia sangat berpotensi untuk diangkat kembali.

"Salah satunya kopi luwak yang khas dan unik serta harga yang cukup mahal. Tapi sekali lagi, Kemendag dan Kemenhub, harus fokus membantu proses ekspor melalui berbagai kemudahan. Karena dengan kualitas yang dimiliki, kopi Indonesia tidak akan kesulitan menembus pasar dunia," pungkasnya.***

wwwwww