Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
22 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
2
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
Hukum
18 jam yang lalu
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
3
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Umum
18 jam yang lalu
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
4
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
14 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
5
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
14 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
6
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
14 jam yang lalu
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Masuk Lima Besar Produsen Kopi Dunia, Nasib Petani Indonesia Kok Belum Serjahtera?

Masuk Lima Besar Produsen Kopi Dunia, Nasib Petani Indonesia Kok Belum Serjahtera?
Ilustrasi petani kopi Indonesia. (Foto: Istimewa)
Senin, 22 Februari 2021 14:43 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia, bersama Brazil, Vietnam, Kolombia, dan Ethiopia.

Prestasi ini tentu sangat membanggakan. Namun bagaimana dengan nasib petani kopi Indonesia?.

Sejatinya, petani tidak butuh prestasi, tapi petani butuh kesejahteraan. Merujuak pada data International Coffe Organization (ICO, menunjukkan bahwa konsumsi kopi dunia pada periode 2016 sampai 2020 tumbuh sekitar 1,9% atau menjadi 157,38 juta karung yang berjumlah 60 kg dari periode sebelumnya.

Meningkatnya konsumsi kopi global tentunya memberikan dampak positif bagi Indonesia sebagai negara eksportir kopi terbesar kedua di dunia.

Dari penelusuran GoNews.co berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (DJPKP), kopi Indonesia yang diekspor mencapai 467.790 ton dengan nilai US$ 1,19 miliar atau setara dengan Rp 16 triliun dengan kurs rupiah Rp 14 ribu per dolar Amerika Serikat.

Meningkatnya ekspor komoditas pertanian Indonesia, khususnya kopi, seringkali tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan petani sebagai produsen dari komoditas tersebut.

Ya, nnasib petani kopi tidak semerbak sewangi biji kopi. Banyak petani kopi justru tercatat sebagai penerima bantuan beras rakyat miskin (Raskin). Artinya mereka tercatat sebagai penduduk miskin yang mengandalkan keberlanjutan hidup dari subsidi pangan yang diberikan oleh pemerintah.

Hal itu disebabkan karena selama ini mayoritas petani tidak memiliki posisi tawar dalam menentukan harga jual kopi, yang membuat kehidupan mereka tetap miskin meskipun bisnis kopi terus menggeliat, belum lagi rantai pasok yang berada dibawah kendali tangan tengkulak yang ikut bermain di dalamnya.

Selama ini petani Kopi Indonesia tidak mempunyai daya tawar. Petani kalah dengan tengkulak. Mereka hanya menjadi objek dari transaksi yang tidak adil yang diterapkan oleh tengkulak.

Buat Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, fakta ini sangat menyedihkan, Ia pun berharap nasib petani kopi diperhatian dengan serius.

LaNyalla mengatakan, keberhasilan Indonesia menjadi salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia, didukung dengan sumber daya alam yang melimpah. "Potensi alam kita sangat berlimpah. Hal ini memerlukan penanganan yang serius agar kita mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat," ujarnya, Senin (22/2/2021).

Ditambahkannya, kontur tanah serta iklim yang ada di Indonesia sangat menunjang hal tersebut. Total produksi kopi di Indonesia, termasuk robusta dan arabika, adalah 660 ribu ton pada 2019-2020.

"Indonesia kaya dengan kopi. Kita pun termasuk lima besar penghasil kopi terbesar di dunia dengan kualitas kopi yang tinggi, dengan jenis kopi robusta dan arabika," terangnya.

Senator asal Jawa Timur itu menambahkan, Indonesia memiliki sekitar 1,2 juta hektare tanaman kopi yang sebagian besar dihasilkan oleh pertanian kecil dan mandiri.

"Masing-masing petani kopi diperkirakan memiliki satu hingga dua hektar lahan kopi. Salah satunya adalah Garut yang cukup besar menghasilkan kopi dan telah ekspor. Untuk itu dukungan harus diberikan agar produksi bisa terus ditingkatkan," katanya.

Hanya saja, di masa pandemi Covid-19 usaha kopi juga turut terdampak. OLeh karena itu, LaNyalla menilai perlu dilakukan langkah pemulihan untuk sektor ini.

"Petani tidak dapat berdiri sendiri saat terjadi situasi di luar prediksi. Mereka memerlukan bantuan stimulan yang dapat pertumbuhan ekonomi kembali," kara pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PSSI itu.

Apalagi untuk ekspor, juga terdampak berkurangnya armada kapal rute luar negeri. Menyusul berhentinya armada pelayaran dalam negeri yang melayani rute internasional.

“Ini mengakibatkan perusahaan ekspor menunggu jadwal kapal asing. Konsekuensinya waktu tunggu dan penambahan biaya shipment. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Pemerintahm kementerian perdagangan dan perhubungan harus turun tangan,” ungkap LaNyalla.

LaNyalla yang juga pernah menjadi Ketua Umum Kadin Jawa Timur mengatakan, varian kopi yang dimiliki Indonesia sangat berpotensi untuk diangkat kembali.

"Salah satunya kopi luwak yang khas dan unik serta harga yang cukup mahal. Tapi sekali lagi, Kemendag dan Kemenhub, harus fokus membantu proses ekspor melalui berbagai kemudahan. Karena dengan kualitas yang dimiliki, kopi Indonesia tidak akan kesulitan menembus pasar dunia," pungkasnya.***

wwwwww