Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
21 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
9 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
3
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
9 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
4
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
19 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
10 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
9 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Home  /  Berita  /  Nasional

Elektabilitas Demokrat Merosot, POPS Ungkap Sebabnya

Elektabilitas Demokrat Merosot, POPS Ungkap Sebabnya
Top of mind publik terhadap partai politik yang dirilis LSI pada 22 Februari 2021. (gambar: tangkapan layar laporan lsi)
Minggu, 28 Februari 2021 11:14 WIB
JAKARTA - Partai Demokrat dinilai publik sebagai partai paling gaduh dalam survei yang dilakukan oleh POPS (Public Opinion Poll Syndicates). Penilaian publik itu berdampak signifikan pada elektabilitas partai itu.

"Tingkat keterpilihan Partai Demokrat mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan hasil pemilu 2019 sebesar 7,77 persen menjadi 5,4 persen karena persepsi pemilih/masyarakat menyatakan ada potensi konflik di internal Partai Demokrat yang akan bisa menyebabkan kepengurusan ganda jelang pemilu 2024, dan dianggap juga sebagai partai yang paling gaduh di saat pandemik Covid-19," kutipan hasil survei POPS sebagaimana dilihat GoNews.co, Minggu (28/2/2021).

POPS mengklaim, survei tersebut dilakukan terhadap 2.180 responden yang terdaftar di DPT (daftar pemilih tetap) Pemilu (pemilihan umum) 2019 yang tersebar di 34 provinsi dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Dalam survey, Demokrat tidak hanya mengalami penurunan elektabilitas pada partainya tapi sosok ikoniknya yakni, SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) juga tercatat mendapat elektabilitas yang tak cukup menggembirakan. Survey tersebut mensimulasikan jika SBY, Jokowi, dan juga Prabowo berhadap-hadapan dan Pilpres (pemilihan presiden) 2024 dengan pertanyaan, "Siapa dari ketiga tokoh ini yang akan dipilih jika ketiga tokoh ini ikut mencalonkan diri sebagai Capres di 2024?".

Hasilnya, Jokowi dipilih sebanyak 42,3 persen, SBY 17,1 persen dan Prabowo Subianto sebanyak10 ,4 persen dan sebanyak 29,4 persen tidak memilih ketiga tiganya atau tokoh lainnya.

Sementara itu, narasumber GoNews.co di DPP Partai Demokrat, Ardy Mbalembout, melalui sambungan telepon menyatakan tak terlalu hirau dengan survei tersebut. Karena menurutnya, dari hasil survei yang dirilis Kompas dan LSI (Lembaga Survei Indonesia) elektabilitas Demokrat dan juga Ketum (Ketua Umum)-nya relatif naik.

"Kalau di internal sendiri pasti ada survei, tapi itu bukan bidang saya untuk menyampaikan dan jangan sampai nanti kami dinilai subektif," kata Ardy yang juga pengemban tugas pengawalan terhadap proses pemilukada (kepala daerah) yang berlangsung Desember 2020 lalu.

Lebih jauh, Ardy menegaskan, Pemilu 2024 masih terlalu lama sementara Indonesia masih dilanda pandemi. Demokrat, kata dia, lebih memilih untuk fokus membantu masyarakat di bawah dalam menghadapi situasi sulit. Potret kerja kader hingga di level bawah itu, dinilai sebagai cermin soliditas Partai Demokrat.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, Nasional, Metropolitan
wwwwww