Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
9 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
Metropolitan
15 jam yang lalu
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
3
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
8 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
4
Kapolri Jenderal Suyudi Ancam Pidana Anggota Polri dan BNN yang Isap Vape Narkotika
Umum
7 jam yang lalu
Kapolri Jenderal Suyudi Ancam Pidana Anggota Polri dan BNN yang Isap Vape Narkotika
5
Jet Pribadi Jatuh di Palm Beach, Kecelakaan Maut Tewaskan Sembilan Penumpang
Internasional
8 jam yang lalu
Jet Pribadi Jatuh di Palm Beach, Kecelakaan Maut Tewaskan Sembilan Penumpang
6
Aturan Baru Mabes Polri Berlaku, Personel Resmi Dilarang Isap Vape
Nasional
12 jam yang lalu
Aturan Baru Mabes Polri Berlaku, Personel Resmi Dilarang Isap Vape
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Sultan Najamudin Dukung Kebijakan Jokowi 'Benci Produk Luar Negeri'

Sultan Najamudin Dukung Kebijakan Jokowi Benci Produk Luar Negeri
Wakil Ketua DPD RI, Sultan Bachtiar Najamudin, dalam suatu kegiatan. (Foto: Humas DPD)
Jum'at, 05 Maret 2021 14:37 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) menggaungkan agar masyarakat mulai membenci produk luar negeri, dan beralih mencintai produk dalam negeri. Hal tersebut bertujuan agar penjualan dari produsen lokal bisa meningkat ke depannya.

Orang nomor satu di tanah air ini menegaskan, dengan adanya rasa cinta terhadap produk lokal, akan menempatkan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di tempat yang strategis.

Wakil Ketua DPD RI, Sultan B Najamudin menyambut baik ajakan Presiden Jokowi itu, menurut senator muda asal Bengkulu ini, masyarakat bisa menjadi konsumen yang loyal untuk produk-produk dalam negeri.

"270 juta jiwa penduduk Indonesia, saya rasa bila semuanya mencintai produk lokal, akan membuat produsen-produsen dalam negeri semakin bergairah. Kualitas produk dalam negeri pun juga mendunia, jadi produk Indonesia sebenarnya mendunia," ujar Sultan B Najamudin dalam keterangan tertulisnya, Jumat (5/3/2021).

Mantan Wakil Gubernur Bengkulu ini juga mendukung strategi Kementerian Perdagangan, yang dimana mall harus menempatkan merek atau brand lokal di depan atau dekat pintu masuk. 

Untuk itu, sambung pria yang akrab disapa SBN ini, pemerintah harus bisa menyiapkan aturan yang bisa mendorong para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) lokal lebih mengerti segi permintaan pasar seperti apa agar bisa bersaing dengan merek asing.

"Dengan menghadirkan produk lokal dibagian depan mall-mall, ini merupakan strategi dagang yang cerdas. Sehingga mata para produsen langsung tertuju terhadap produk lokal," beber Sultan.

"Namun begitu, pemerintah harus memberikan imbauan kepada pengelola mall-mall, agar memberikan tarif sewa yang rendah kepada merek lokal," sambung Sultan.

Ia juga berharap, dengan adanya strategi tersebut bisa memajukan para pelaku UMKM yang sempat terpuruk dihantam badai pandemi Covid-19 setahun lalu.

"Saya berharap strategi ini berjalan dengan baik, sehingga para UMKM yang tengah berjuang kembali ini bisa menemukan jalan menuju kesuksesan. Ingat, pelaku UMKM ini adalah tulang punggung ekonomi nasional," harap kader jebolan HIPMI ini.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor Indonesia pada Januari 2021 tercatat US$13,34 miliar, turun 6,49% dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai US$14,27 miliar.

Berdasarkan penggunaan barang, seluruh jenis impor terkontraksi cukup tajam. Nilai impor konsumsi tercatat US$1,42 miliar, turun 17% secara bulanan dan 2,92% secara tahunan.

Secara bulanan, anjloknya impor terjadi karena penurunan impor bawang putih dari Tiongkok, makanan beku dari India, apel Tiongkok, susu dari Selandia Baru, dan anggur segar Tiongkok.

Selanjutnya, impor bahan baku atau penolong nilainya sebesar US$9,93 miliar, anjlok 2,62% secara bulanan dan 6,1% secara tahunan. Penurunan secara bulanan disumbang impor minyak kedelai dari Argentina dan transmisi aparatur Tiongkok. 

Kemudian, nilai impor barang modal tercatat US$1,99 miliar, turun tajam 21,23% secara bulanan akibat penurunan impor berbagai jenis mesin dari Tiongkok dan Italia. Nilai impor barang modal turut anjlok 10,72% secara tahunan.***

wwwwww