Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tak Punya Biaya Lagi, Dedek Bayi Pengidap Omfalokel Terpaksa Keluar dari RSUD Arifin Achmad
Peristiwa
5 jam yang lalu
Tak Punya Biaya Lagi, Dedek Bayi Pengidap Omfalokel Terpaksa Keluar dari RSUD Arifin Achmad
2
Kader IMM Diharapkan Jadi Pemuda Kreatif, Inovatif dan Berjiwa Wirausaha
Pemerintahan
21 jam yang lalu
Kader IMM Diharapkan Jadi Pemuda Kreatif, Inovatif dan Berjiwa Wirausaha
3
Beri Kuliah Umum di UNNES, Amali Kembali Ingatkan Pentingnya Sport Science
Olahraga
21 jam yang lalu
Beri Kuliah Umum di UNNES, Amali Kembali Ingatkan Pentingnya Sport Science
4
Sindir Komisaris PT Pelni, Tokoh Papua: Bocah Ini Agamanya Gak Jelas, Kok Nuduh Ulama Radikal
Pemerintahan
9 jam yang lalu
Sindir Komisaris PT Pelni, Tokoh Papua: Bocah Ini Agamanya Gak Jelas, Kok Nuduh Ulama Radikal
5
Kritik Keras MUI ke PT Pelni soal Pembatalan Pengajian: Bentuk Nyata Arogansi Kekuasaan!
Peristiwa
9 jam yang lalu
Kritik Keras MUI ke PT Pelni soal Pembatalan Pengajian: Bentuk Nyata Arogansi Kekuasaan!
6
Kecepatan dan Ketepatan Target Penanganan Teroris, Indonesia harus Belajar dari New Zealand
Hukum
8 jam yang lalu
Kecepatan dan Ketepatan Target Penanganan Teroris, Indonesia harus Belajar dari New Zealand
Home  /  Berita  /  Peristiwa

Gerak Cepat Aparat Tangkap Teroris Ketimbang Kasus Harun Masiku

Gerak Cepat Aparat Tangkap Teroris Ketimbang Kasus Harun Masiku
Ilustrasi Densus 88 dan Buronan KPK, Harun Masiku. (Foto Kolase GoNews)
Minggu, 04 April 2021 19:23 WIB
JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri menggeledah ruangan Pondok Pesantren (Ponpes) Ibnul Qoyyim di Dusun Gandu, Sendangtirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta pada Jumat (2/4/2021).

Sekretaris Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, menilai aksi penggeledahan Densus 88 di ponpes sebagai bagian upaya pemberantasan terorisme bisa kontraproduktif.

''Secara institusional Densus 88 bisa melakukan penggeledahan dimana pun. Akan tetapi, kalau tujuan penggeledahan itu dimaksudkan sebagai usaha pemberantasan terorisme bisa kontra produktif. Cara-cara militeristik terbukti tidak cukup efektif,'' ujar Mu'ti, Sabtu (3/4/2021) seperti dilansir GoNews dari Detik.com.

''Selain itu, penggeledahan pesantren bisa menimbulkan opini bahwa pemberantasan terorisme berarti perang melawan umat Islam. Pendekatan militeristik tidak menimbulkan efek jera,'' sambungnya.

Mu'ti mengatakan seharusnya Densus 88 berkolaborasi dengan elemen masyarakat dalam mengungkap jaringan terorisme. Mu'ti menyebut Densus 88 tak bisa bekerja sendiri dalam memberantas terorisme.

''Yang perlu dilakukan adalah pendekatan semesta partisipatif, dimana Densus bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat. Densus tidak akan mampu bekerja sendiri,'' katanya.

Selain itu, kata Mu'ti, Densus 88 harus bisa menjalin kerja sama yang baik dengan Badan Intelijen Negara (BIN). Hal itu perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya salah sasaran dalam melakukan penggeledahan.

''Secara kelembagaan Densus harus bekerjasama dengan lembaga intelijen sehingga mendapatkan informasi yang akurat dan menindak dengan cara yang bijak,'' ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, Densus 88 Antiteror Mabes Polri menggeledah 2 tempat yang diduga berkaitan dengan kegiatan teroris, Jumat (2/4/2021). Kedua lokasi yang digeledah berada di Kapanewon Berbah, Sleman.

Di lokasi pertama, Densus menggeledah rumah yang berlokasi di RT 06 RW 05, Dawukan, Sendangtirto, Berbah, Sleman. Rumah yang digeledah merupakan milik pria berinisial H yang disebut sudah diamankan.

Sementara itu, di lokasi kedua, Densus 88 menggeledah ruangan Ponpes Ibnul Qoyyim Dusun Gandu, Sendangtirto, Berbah, Sleman.

Ketua RT 04 RW 07 Gandu, Sendangtirto, Berbah, Sleman, Agus Purwanto (48) yang menjadi saksi menuturkan penggeledahan dimulai selepas waktu Isya.

Agus mengatakan, selama Ponpes itu berdiri dari tahun 80 an, ia mengaku baru kali ini digeledah. Pasalnya, sejauh ini tidak ada aktivitas mencurigakan di Ponpes itu. ''Baru kali ini digeledah, tidak ada aktivitas mencurigakan,'' katanya.

Banyak juga masyarakat yang mengaku heran dengan sikap pemerintah khusunya aparat. Ketka ada kejadian teror, seakan mereka bergerak cepat dan langsung menemukan para terduga pelaku. Ini berbanding terbalik jika aparat diminta memburu para koruptor. "Kalau teroris cepat banget, giliran suruh nangkap koruptor pada loyo," ujar @Sy_1958 di akun twitter.

"Banyak koruptor yang belum ditangkap. Salahsatunya Harun Masiku, ayo pak Polisi buktikan kalian mampu menangkap koruptor, segera serahkan ke KPK," tulisnya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Peristiwa, Hukum, Pemerintahan, DKI Jakarta
wwwwww