Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
18 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
16 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
3
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
7 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
4
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
7 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
5
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
7 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
6
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
7 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Home  /  Berita  /  Non Olympic

14 Cabor Unggulan di Grand Design Olahraga Nasional Utamakan Teknik dan Akurasi

14 Cabor Unggulan di Grand Design Olahraga Nasional Utamakan Teknik dan Akurasi
Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Kemenpora, Chandra Bhakti. (Foto:kemenpora.go.id)
Kamis, 06 Mei 2021 10:08 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menetapkan sebanyak 14 cabang olahraga (cabor) masuk dalam grand design atau desain besar olahraga nasional yang akan ditingkatkan prestasi menuju Olimpiade dan Paralimpiade.

Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Kemenpora, Chandra Bhakti dalam Media Gathering Kemenpora di Jakarta, Selasa (4/5/2021), mengatakan, penetapan 14 cabor tersebut berdasarkan satu kajian dimana cabang olahraga yang diunggulkan dengan disesuaikan dengan kemampuan fisik orang Indonesia yang mengandalkan teknik dan akurasi

“Pemilihan 14 cabang olahraga ini sudah melalui satu kajian. Kita melihat lebih pada olahraga yang mengutamakan teknik dan akurasi bukan yang mengandalkan fisik. Karena fisik kita jika diukur dengan orang Eropa dan Amerika tentu kita kalah fisik,” kata Chandra Bhakti.

Di sisi lain, dari 14 cabang olahraga ini, beberapa diantaranya kerap menorehkan prestasi di event-event internasional seperti cabang olahraga Bulu Tangkis, Angkat Besi, Panahan, Menembak dan lainnya. Disamping itu pola pembinaan mereka selama ini dinilai berjalan dengan baik.

“Tetapi 14 cabor ini bisa saja salah satunya akan terjadi degradasi ketika misalnya terjadi gesekan (dalam organisasi). Salah satunya cabang olahraga ini misalnya terjadi dualism atau tigalisme. Bisa juga yang tadi tidak masuk 14 ini karena pembinaannya baik bisa masuk ini bukan harga mati 14 cabang olahraga ini,” ungkap Chandra.

Menurut Chandra, untuk meningkatkan prestasi di event internasional, terutama olimpiade dan paralimpiade yang merupakan sasaran utama dalam grand design olahraga nasional. Para atlet perlu dilakukan pola pembinaan sejak usia dini.

“Prestasi atlet kita selama ini itu datang dari atlet itu sendiri, artinya prestasi itu by accident bukan by design. Dalam konteks yang lebih luas, maka kita perlu mempersiapkan sebuah konsep, sebuah perencanaan agar atlet kita bisa mencapai puncak prestasinya,” ujarnya.

Terlebih Indonesia ditargetkan jadi tuan rumah dan tengah dalam proses bidding untuk olimpiade 2032 mendatang. Pemerintah tidak ingin Indonesia hanya sekadar jadi penyelenggara saja, tapi juga harus sukses meraih prestasi. Bahkan ditargetkan masuk 10 besar peraih medali terbanyak.

“Target kita adalah Indonesia maju. 10 besar besar olimpiade dan para olimpiade 2032. Kenapa? kita sama ketahui bahwa kita ingin bahwa kita menjadi tuan rumah olimpiade dan paralimpiade. Tentu kalau kita nanti menjadi tuan rumahnya, kita tidak hanya ingin sukses penyelenggaraan. Tapi juga sukses prestasi. Oleh karena itu paralel dengan penyiapan dengan menjadi tuan rumah kita harus melakukan proses itu, kita menyiapkan atlet jadi upaya kita dalam hal pembinaan jangka panjang,” tukasnya.

Sementara itu, terkait kekhawatiran banyak pihak bahwa desain besar yang tersusun saat ini akan berubah lagi saat pergantian pemerintahan, Chandra memastikan pihaknya di Kemenpora bersama stakeholder meletakan sistem pola pembinaan atlet hingga tahun 2045 nanti.

“Tentu Pak Menpora melihat prestasi ini harus didesain, makanya kami menyusun grand design, sistemnya kami bentuk. Dan ini harus kami realisasikan, oleh karena itu harus kami bungkus dengan regulasinya Peraturan Presiden (Perpres),” jelasnya. ***

wwwwww