Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
Olympic
21 jam yang lalu
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
2
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
Olympic
20 jam yang lalu
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
3
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
Metropolitan
11 jam yang lalu
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
4
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
Sepakbola
20 jam yang lalu
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
5
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
Sepakbola
20 jam yang lalu
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
6
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Sepakbola
20 jam yang lalu
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Home  /  Berita  /  Nasional

58 Ribu Guru Madrasah Belum S1, Cyber Islamic University Diharap jadi Solusi

58 Ribu Guru Madrasah Belum S1, Cyber Islamic University Diharap jadi Solusi
Aktifitas mengajar guru MI Misbahussudur, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan. (foto: dok. ist./kompas.com)
Sabtu, 05 Juni 2021 09:51 WIB
JAKARTA - Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Republik Indonesia, Muhammad Ali Ramdhani menyatakan, negara harus hadir dalam menyajikan pendidikan bagi 58 ribu guru madrasah yang belum S1 dengan membentuk Cyber Islamic University atau universitas islam berbasis siber.

Mengutip Antara, Sabtu (5/6/2021), ide perkuliahan siber itu akan diwujudkan sepenuhnya dengan menggunakan sistem daring, mulai dari pendaftaran, proses pembelajaran, sampai kelulusannya. Ini diharap membantu para guru madrasah tersebut yang mayoritas merupakan figur sentral pendidikan di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Saat ini, peta konsep, modul, dan model pembelajaran jarak jauhnya sudah ada, sehingga dalam waktu dekat sudah siap diaplikasikan.

"Ini merupakan pekerjaan berat, karena saat ini yang akan terlibat sebanyak 58 kampus. Bila dihitung kapasitas, untuk mengentaskan 56 ribu guru menjadi sarjana lengkap memerlukan waktu lebih dari 10 tahun," kata dia.

Model universitas siber ini nantinya juga akan dibutuhkan oleh warga negara Indonesia yang berada di luar teritori, seperti para TKI. Di waktu senggang usai bekerja, mereka dapat kuliah melalui platform ini.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Umum, Nasional, DKI Jakarta
wwwwww