Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
19 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
23 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
3
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
20 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
24 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
19 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
6
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
19 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Home  /  Berita  /  Basket

Parahnya Krisis Ekonomi di Lebanon, Warga Sebut Bak hidup di Neraka

Parahnya Krisis Ekonomi di Lebanon, Warga Sebut Bak hidup di Neraka
Sopir taksi di Lebanon tertidur saat berjam-jam mengantre untuk membeli bahan bakar di tengah krisis ekonomi yang memburuk (AP Photo/Hussein Malla, File)
Jum'at, 09 Juli 2021 21:01 WIB
BEIRUT - Situasi krisis ekonomi di Lebanon semakin parah hingga membuat negara ini disebut bagai 'neraka' oleh warganya sendiri. Hiperinflasi dan kelangkaan berbagai kebutuhan pokok membuat situasi di Lebanon semakin tak tertahankan bagi warganya.

Seperti dilansir Associated Press, Jumat (9/7/2021), sekitar 6 juta warga Lebanon tengah menghadapi realita baru di mana keseharian mereka diwarnai kelangkaan dan kekurangan berbagai bahan pokok termasuk obat-obatan, bahan bakar dan suku cadang untuk mobil. Lebanon diketahui sangat bergantung pada impor.

Pandemi virus Corona (COVID-19) semakin mempersulit situasi, dengan rumah-rumah sakit di Lebanon yang dulunya menjadi salah satu yang terbaik di kawasan, harus ikut berjuang. Krisis ekonomi dan finansial diketahui membuat aliran listrik hanya bertahan selama beberapa jam setiap harinya, memicu kelangkaan bahan bakar diesel yang dibutuhkan untuk generator dan memicu kurangnya perlengkapan medis serta obat-obatan.

Krisis yang berawal dari akhir tahun 2019 ini diketahui berakar pada praktik korupsi dan salah urus oleh pemerintah selama bertahun-tahun. Situasi politik di Lebanon yang diwarnai perang sipil antara kelas-kelas politik telah berakumulasi pada penumpukan utang dan tidak bisa berbuat banyak untuk mendorong industri lokal, sehingga memaksa negara ini bergantung pada impor untuk nyaris semuanya.

Mata uang Lebanon kehilangan lebih dari 90 persen nilainya, dengan bank-bank membatasi penarikan dan transfer sementara hiperinflasi berkobar. Lebih dari separuh populasi Lebanon terjerumus ke dalam kemiskinan.

Krisis likuiditas diketahui melumpuhkan kemampuan pemerintah untuk menyediakan bahan bakar, pasokan listrik dan kebutuhan pokok. Impor pasokan medis dan energi juga terkena dampaknya. Kelangkaan bahan bakar secara khusus memicu kekhawatiran bahwa negara ini akan lumpuh.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:DKI Jakarta, Basket, Metropolitan, Voli, Olympic
wwwwww