Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
13 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
12 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
3
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
7 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
4
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
7 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
5
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
Hukum
7 jam yang lalu
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
6
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
Olympic
7 jam yang lalu
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
Home  /  Berita  /  Non Olympic

Perjalanan Hardianus Lakudu Capai Tahun Keemasan

Perjalanan Hardianus Lakudu Capai Tahun Keemasan
Minggu, 18 Juli 2021 12:26 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Tahun ini benar-benar menjadi tahun emas untuk Hardianus Lakudu. Menjadi juara bersama Satria Muda Pertamina sekaligus menjadi Most Valuable Player Finals Indonesia Basketball League (IBL) 2021. Pemain yang lahir di Sangatta, Kutai Timur pada 7 Maret 1992 juga cukup cemerlang bermain untuk Tim Nasional Basket Indonesia

Jalan Hardianus hingga menjadi MVP cukup panjang. Dia sudah berlatih bola basket sejak duduk di bangku SD YPPSB Sangatta. Hardianus kemudian  terpilih mengikuti berbagai turnamen basket  yang membawa nama tim basket Kutai Timur dan Provinsi Kalimantan Timur.  

Tahun 2008 dia membawa Kutai Timur jadi runner up Kejurda Basket U 16 Kaltim, kemudian  juga meraih runner  Kejurnas Basket U 16 Semarang bersama tim Kalimantan Timur . Tahun 2009 Juara 1 menjadi juara dalam POPROV Basket Kaltim serta peringkat ketiga  POPNAS U 18 di Yogyakarta. Hardianus juga membela Kaltim pada PON 2012 Palembang.

Bertekad untuk maju dan berkarier di bolabasket, Hardianus menerima tawaran beasiswa STIE Bhakti Pembangunan dan  hijrah ke Jakarta. Selain bersama tim kampus, Hardianus juga berlatih bersama tim Hangtuah dan Satria Muda, anggota NBL, nama liga professional ketika itu. Hardianus sempat ditawari bergabung dengan Satria Muda dengan durasi kontrak sepanjang delapan tahun.

Dia menolak karena terlalu lama. Hardianus kemudian menerima saran seniornya di Satria Muda saat itu, Faisal J, Ahmad. “Faisal menyarankan saya bermain di Hangtuah,” katanya seperti dikutip dari situs NBL waktu itu. Ketika itu Hangtuah ditangani pelatih asal Filipina Nath Canson. Coach Nath pula yang membentuk Faisal ketika menangani Satria Muda. Jadilah Hardianus membela Hangtuah di tahun 2011. 

Satria Muda rupanya terus berminat pada bakat dan permainan Hardianus. Tahun 2013, Hardianus pun membela Satria Muda. Bersama Satria Muda, Hardianus  menjadi juara NBL musim 2014/2015.  Pada  IBL 2017, Hardianus dan Satria Muda hanya menjadi runner up setelah dikalahkan Pelita Jaya di final.  Setahun kemudian, Hardianus dkk membalas dan menjadi juara setelah mengalahkan Pelita Jaya di babak final. Pada IBL Pertamax 2019, Satria Muda kembali masuk final, namun digagalkan menjadi juara oleh Stapac. Pada IBL Pertamax 2020, Hardianus memperkuat tim  nasional Indonesia yang membawa bendera Indonesia Patriots.

Setelah melewati berbagai rintangan karena pandemi. Kemudian berjuang dan berlaga dalam gelembung, melawan kejenuhan , Hardianus bersama Satria Muda Pertamina akhirnya menjadi juara. Hardianus menjadi bintang dan MVP Finals. “Terima kasih kepada Tuhan Yesus, terima kasih kepada keluarga dan terima kasih kepada semua rekan-rekan dan seluruh ofisial Satria Muda,” kata Hardianus seusai laga final, 6 Juni lalu. ***

wwwwww