Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
9 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
8 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
3
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
Metropolitan
15 jam yang lalu
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
4
Kapolri Jenderal Suyudi Ancam Pidana Anggota Polri dan BNN yang Isap Vape Narkotika
Umum
8 jam yang lalu
Kapolri Jenderal Suyudi Ancam Pidana Anggota Polri dan BNN yang Isap Vape Narkotika
5
Jet Pribadi Jatuh di Palm Beach, Kecelakaan Maut Tewaskan Sembilan Penumpang
Internasional
8 jam yang lalu
Jet Pribadi Jatuh di Palm Beach, Kecelakaan Maut Tewaskan Sembilan Penumpang
6
Aturan Baru Mabes Polri Berlaku, Personel Resmi Dilarang Isap Vape
Nasional
12 jam yang lalu
Aturan Baru Mabes Polri Berlaku, Personel Resmi Dilarang Isap Vape
Home  /  Berita  /  Non Olympic
Olimpiade 2020 Tokyo

Terhenti di Tokyo, Rio Membidik Paris

Terhenti di Tokyo, Rio Membidik Paris
Rio Waida. (Dok. NOC Indonesia)
Senin, 26 Juli 2021 21:26 WIB
Penulis: Azhari Nasution
TOKYO  - Perjalanan atlet surfing Indonesia, Rio Waida terhenti pada ronde ketiga di Olimpiade 2020 Tokyo. Tetapi, lelaki berusia 21 tahun ini masih memiliki ambisi tinggi. Dia membidik medali yang akan disumbangkan bagi Indonesia di Olimpiade 2024 Paris.

Tampil pada Ronde III di Tsurigasaki Surfing Beach, Jepang, Senin (26/7/2021), Rio harus mengakui kehebatan surfer nomor enam dunia Kanoa Igarashi (Jepang) dengan nilai 12-14. Namun, peforma Rio diwarnai aksi dramatis dan kondisi ombak yang mendebarkan karena Rio sempat tertingggal 5,83-812.

Lima menit terakhir, Rio mampu mengejar ketertinggalan. Hanya saja, waktu yang dimilikinya habis sehingga dia menutup ronde ketiga dengan skor 12-14. “Kondisi ombak buruk, arus keras. Selama 10 menit, saya sempat bingung menempatkan posisi. Ditambah surfing saya buruk, saya pun kalah,” tutur Rio.

Rio pernah mengalahkan Igarashi di ISA World Surfing Games 2019 Miyazaki, Jepang. Tapi, kali ini berbeda karena ombak di Tsurigasaki Beach tak begitu bagus di masa musim panah. Belum lagi, cuaca berangin dikarenakan badai taifun yag diprediksi bakal menerjang Tokyo pada 27 Juli sehingga cuaca di Pantai Tsurigasaki sangat berangin.

Meski belum berhasil membawa pulang medali, tetapi Rio mengaku mendapat pelajaran beharga. Sebab, ia berkompetisi dengan surfer andal. Rio juga mengaku belajar dari sikap dan trik para lawan yang berlaga di Tokyo.

Agenda ke depan, Rio  berencana ke Mexico, tampil di Kejuaraan Dunia. Setelah itu berlaga di 4 ajang challenger, untuk mendapatkan tempat di world championship tour, yang jadi salah satu kualifikasi Olimpiade 2024 Paris 2024.  

“Terima kasih atas dukungan teman-teman dan Indonesia. Mohon maaf saya belum bisa membawa pulang medali. Saya akan berusaha lebih keras untuk bisa tampil lebih baik di Paris 2024,”

Bersama pelatih Tipi Jabrik. 

Di bagian lain pelatih Tipi Jabrik menyebut secara keseluruhan penampilan Rio sudah maksimal. Sayang, kondisi laga tidak ideal. Peluang fifty-fifty dan butuh faktor luck. Inilah yang tidak diperoleh Rio.

Tipi pun menyebut, ada pelajara penting buat pengurus besar persatuan olahraga selancar ombak Indonesia (PB PSOI), yakni agar kelak bisa meloloskan dua atlet ke Olimpiade. Jadi, harus mengirim atlet ke berbagai event buat menambah pengalaman.

“Dengan lolos ke Olimpiade 2020, membuktikan kita itu punya atlet berpotensi. Apalagi, seleksi menuju ajang ini sangat sulit dan berat. Tak Cuma skill, tapi juga bertarung dengan alam,” tandas Tipi.

Lebih lanjut, juga harus memikirkan strategi pembinaan atlet pelapis. Negeri ini surga ombak, jadi kendala itu nyaris tak ada.Tak ayal, surfing juga bisa menjadi andalan seperti bulutangkis dan angkat besi. PB PSOI pun tengah merancang liga surfing nasional sehingga klub-klub bisa sumbang altet.

Selain itu, Tipi juga berharap adanya sinergi antara Kementerian Pemuda dan Olahraga. Selain itu, Kementerian Pariwisata, terkait daerah-daerah yang menunjang surfing. Ini mengembangkan ekonomi dan kelak bisa akses pada ketersediaan peralatan.

“Jadi, harus bisa mengidentifikasikan potensi daerah terkait kegiatan surfer ini,” tambahnya. ***

wwwwww