Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
16 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
14 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
3
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
5 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
4
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
5 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
5 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
4 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Diskusi Sumpah Pemuda, Ada Dorongan agar Pemerintahan Jokowi Tak Pro Beijing

Diskusi Sumpah Pemuda, Ada Dorongan agar Pemerintahan Jokowi Tak Pro Beijing
Susana diskusi para pemuda di Jakarta, Kamis, 28 Oktober 2021. (foto: www.gonews.co/muslikhin effendi)
Kamis, 28 Oktober 2021 18:48 WIB
JAKARTA - Para pemuda bersama aktivis dan politisi menggelar diskusi 'Renungan Hari Sumpah Pemuda ke-93' di Jakarta, Kamis (28/10/2021). Diskursus yang mengemuka, membuka tabir bahwa pengelolaan negara terlalu pro Beijing sehingga pemerintah didorong untuk lebih mengedepankan kepentingan rakyat Indonesia.

"Saat ini imperialisme baru dari negara khususnya Tiongkok ternyata telah membuat pemerintah kehilangan objektifitasnya dalam rangka menjaga kepentingan Nasional. Subjektifitas penguasa kepada Tiongkok telah menyebabkan banyak sekali konsekuensi-konsekuensi yang merugikan rakyat serta meruntuhkan sendi-sendi ke Indonesiaan yang sudah dibangun sejak Sumpah Pemuda," kata Ferry Juliantono dalam salah satu narasumber diskusi.

Ferry mengatakan, diskusi ini telah membaca bahwa pengelolaan negara hanya untuk segelintir orang dengan memanfaatkan bangsa. "Atau apa yang kita sebut dengan oligarki,".

"Salah satu resolusi yang lahir dalam diskusi ini adalah untuk melawan oligarki ini, sehingga kembali pada Indonesia semua untuk Indonesia," jelas Ferry.

Ferry menjelaskan, resolusi tersebut lahir dalam rangka menjaga kepentingan nasional. Pemerintah diminta untuk kembali dalam posisi mengutamakan kepentingan rakyat dan kepentingan nasional.

"Yang terjadi saat ini bagaimana terlalu subjektif, sebut saja terlalu memihak pada kepentingan Tiongkok. Sehingga menimbulkan konsekuensi negatif bagi negara, seperti mengganggu kehormatan dan kedaulatan bangsa kita, kedua konsekuensi yang diterima dan dirasakan masyarakat Indonesia. Banyak pertambangan yang kemudian sekarang diambil alih oleh swasta, dan perusahaan yang diuntungkan oleh garis kebijakan pro Bejjing ini," ungkapnya.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Metropolitan, Nasional, DKI Jakarta
wwwwww