Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
15 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
14 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
3
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
4 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
4
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
4 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
5
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
3 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
6
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
4 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Kepala BRIN Jadikan Megawati Politisi Concern Riset, PKS: Itu Budaya Menjilat Atasan

Kepala BRIN Jadikan Megawati Politisi Concern Riset, PKS: Itu Budaya Menjilat Atasan
Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto. (foto: Istimewa)
Rabu, 05 Januari 2022 02:31 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Pernyataan Kepala BRIN Laksana Tri Handoko bahwa politisi yang paling concern dengan riset dan science adalah Ketua Megawati Soekarnoputri, tidak lebih dari upaya menyenangkan atasan.

Seharusnya, kata anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto, seorang kepala lembaga penelitian berbicara ilmiah yang sedianya didasarkan pada analisis kritis.

"Kita memang termasuk masyarakat yang tidak lepas dari budaya ABS (asal bapak senang), menjilat atasan, angkat ke atas injak ke bawah," kata Mulyanto kepada GoNews.co melalui keterangan persnya, Selasa (4/1/2022).

Menurut Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI ini, cara-cara menjilat atasan itu masih melekat karena budaya feodalistik masih bercokol. Dengan kata lain, irisannya berhubungan atasan-bawahan patron-client. "Jadi tidak heran kalau muncul fenomena seperti itu," sesal Mulyanto.

Atas dasar itu, Mulyanto mengajak semua pihak untuk secara perlahan melalui pendidikan, mental masyarakat seperti itu bisa dirubah menjadi masyarakat yang berbasis meritokrasi, lebih profesional dan egaliter.

Apalagi, lanjutnya, sejak awal Megawati dilantik menjadi dewan pengarah BRIN, sudah bisa ditebak akhirnya akan terjadi politisasi riset.

"Karenanya sejak awal saya khawatir akan politisasi ristek, di mana ketua dewan pengarah BRIN diisi oleh ketua dewan pengarah BPIP yang ketum parpol yang tidak memiliki reputasi ilmiah," pungkasnya.***

wwwwww