Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
18 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
11 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
18 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
4
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
10 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
5
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
20 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
6
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
20 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Home  /  Berita  /  Non Olympic

Sistem Bubble Paling Ideal Untuk Atlet Kata Okto

Sistem Bubble Paling Ideal Untuk Atlet Kata Okto
Raja Sapta Oktohari (Dok. NOC Indonesia)
Jum'at, 21 Januari 2022 14:34 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Penerapan sistem bubble atau gelumbung sukses dilakukan saat Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Indonesia Badminton Festival (IBF) di Bali pada November-Desember 2021. Makanya, sistem bubble IBF yang sama dengan luar negeri itu merupakan bentuk paling ideal untuk karantina atlet.

Sistem bubble artinya para atlet, pelatih dan ofisial memenuhi persyaratan tertentu seperti vaksinasi lengkap, tes PCR negatif, aktivitas di tempat itu saja, tidak diizinkan meninggalkan hotel dan venue pertandingan, tetapi masih bisa berlatih.

"Sistem bubble juga dilakukan saat Olimpiade 2020 Tokyo kemarin (Jepang), Piala AFF 2020 di Singapura, dan kejuaraan lain di negara-negara lain, termasuk bulutangkis IBF di Bali. Saya rasa sistem bubble ini paling ideal untuk dilaksanakan dan punya referensinya," kata Ketua Umum Komite Olimpiade (NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari yang dihubungi Jumat (21/1/2022).

Menurutnya, diskresi karantina untuk pelaku olahraga bisa digunakan di berbagai event, tidak hanya MotoGP Indonesia 2022. Dan, dia juga sudah mengusulkan diskresi karantina pelaku olahraga dari luar negeri.

Usulan itu disampaikan setelah dia mendengar pengalaman dan masukan dari federasi nasional yang kesulitan menyelenggarakan turnamen internasional di Indonesia karena durasi karantina. Keluhan serupa juga disuarakan atlet, pelatih, dan ofisial yang pulang ke Tanah Air seusai tryout atau ujicoba dan bertanding dari luar negeri.

Diskresi yang diusulkan merupakan kewenangan untuk menjalani karantina dengan kebijakan yang berbeda, seperti karantina dengan menerapkan sistem gelembung atau bubble yang biasa digunakan dalam kejuaraan olahraga.

Pria yang akrab disapa Okto itu menjelaskan bahwa kebijakan tersebut diperlukan karena keterbatasan akses latihan selama karantina panjang akan mempengaruhi stamina dan performa para atlet.

"KOI melihat masa karantina sangat berdampak terhadap kebugaran atlet. Kami menerima masukan dari federasi olahraga nasional yang sempat menjalani karantina, akses mereka terbatas dan tidak bisa berlatih optimal. Selain karena tidak boleh keluar kamar, belum tentu di hotel karantina memiliki fasilitas latihan,” ujarnya.

"Bulan Maret 2022 bukan hanya ada MotoGP, tetapi juga Davis Cup yang diadakan Pelti (Persatuan Lawn Tenis Indonesia). Nanti ada juga panjat tebing dan esport, jadi event-nya banyak. Saya kira kebijakan itu bisa dipakai rata," ujar Okto.

"Namun, yang paling penting kita akan mengikuti SEA Games, Asian Games, Islamic Solidarity Games, dan lain-lain. Atlet harus latihan. Kalau tidak, pasti kemampuan berkurang," tandasnya. ***

wwwwww