Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
17 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
15 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
3
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
6 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
4
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
6 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
6 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
6 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Home  /  Berita  /  Metropolitan

DPR: Kasus Jenderal Andika Dibohongi Anak Buah Harus Dijadikan Pelajaran

DPR: Kasus Jenderal Andika Dibohongi Anak Buah Harus Dijadikan Pelajaran
Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin. (Foto: humas DPR)
Senin, 21 Maret 2022 20:39 WIB

JAKARTA - Panglima TNI, Jenderal Andika Perkasa menangkap adanya kejanggalan pada kronologis penyerangan KKB di Pos Koramil Gome, Kabupaten Puncak, Papua, akhir Januari 2022 lalu.

Hasilnya, Jenderal Andika mendapatkan informasi bahwa Komandan Kompi dan Komandan Batalyon berbohong lantaran tidak memperhitungkan dan menyepelekan anggota saat bertugas.

Pada insiden tersebut, 3 anggota TNI gugur terkena tembakan KKB, yakni Serda Rizal, Pratu Tupas Barazza, dan Pratu Rahman.

Peristiwa ini pun turut disoroti anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin. Ia mengatakan, pada dasarnya peran Komandan Kompi dan Komandan Peleton sangat signifikan dalam menentukan keberhasilan tugas.

"Peran komandan bawahan terutama Komandan Kompi (Danki) dan Komandan Peleton (Danton) dalam menghadapi pertempuran dengan teknik gerilya itu sangat menentukan keberhasilan tugas," tegas Hasanuddin kepada wartawan, Senin (21/3/2022).

Legislator Fraksi PDI Perjuangan ini berpendapat, penempatan satuan di tempat yang kurang strategis sangat berbahaya bagi pasukan karena rawan disergap musuh.

Dalam hukum militer, kata dia, seorang perwira atau komandan sah-sah saja diseret ke Pengadilan Militer untuk dimintai pertanggungjawaban, dengan catatan harus melalui proses hukum yang benar.

"Kasus ini harus menjadi pelajaran bagi satuan-satuan pendidikan agar benar-benar melatih prajurit yang akan ditugaskan, terutama dalam menggembleng mental dan ketrampilannya,” demikian Hasanuddin.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Olympic, Voli, Metropolitan, DKI Jakarta
wwwwww